NADIKABAR.COM — Mohammed Musleh masih diliputi keterkejutan. Setelah Houthi merebut kota pelabuhan Mokha pada awal September, keluarganya terpaksa meninggalkan rumah tanpa sempat membawa barang-barang.
"Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang," kata pria 46 tahun itu kepada DW. Istrinya, Muna, juga cemas karena keluarga mereka tak sempat membawa dokumen identitas pribadi. "Houthi menyuruh kami pergi, praktis saat itu juga. Kami tidak punya waktu untuk membawa apa pun," katanya.
Untuk sementara, keluarga bersama dua putri yang masih kecil itu tinggal di rumah kerabat di Aden, kota terbesar yang dikuasai pemerintah di Yaman selatan. "Kami mengatakan kepada anak-anak bahwa kami berharap segera bisa pulang," kata pasangan itu.
Rashad al-Alimi, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden, badan pimpinan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, mengatakan perubahan di medan perang belakangan ini tidak akan mengubah tujuan pemerintah memulihkan kewenangan negara di seluruh negeri.
Namun, melihat kemajuan terbaru Houthi yang didukung Iran dan perluasan wilayah yang mereka kuasai di Yaman, kepulangan keluarga Musleh ke rumah mereka di Mokha tampaknya belum mungkin dalam waktu dekat.
Sejak akhir Juli, Houthi yang didukung Iran memperluas wilayah kekuasaannya dari bagian utara dan tengah negeri hingga sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman. Mereka merebut wilayah dari pasukan pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi. Konflik terus meningkat, disertai saling serang rudal dan drone antara Houthi dan Arab Saudi.
Houthi kini bergerak lebih jauh ke dalam negeri menuju Pegunungan Kahboub yang strategis. Pegunungan itu penting karena mengawasi kawasan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur air penting yang selama ini menjadi rute alternatif bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah blokade Iran terhadap Selat Hormuz yang berada di dekatnya.
Pegunungan tersebut juga hanya sekitar 40 kilometer (25 mil) di barat daya Taiz, yang berada di bawah kendali pemerintah.
Fatima, seorang ibu di Taiz, mengatakan kepada anak-anaknya bahwa suara tembakan adalah suara kembang api. "Kami takut dan juga khawatir karena gas sudah sulit didapat dan harga-harga naik. Para pedagang tidak lagi datang ke Taiz," katanya kepada DW. Dia meminta nama lengkapnya tidak dipublikasikan karena khawatir akan pembalasan.