Rania dan anak-anaknya juga memutuskan untuk tetap tinggal di rumah di Taiz untuk sementara. "Namun kami takut jika Houthi memperketat cengkeramannya atas Kota Taiz, kami akan kembali hidup dalam pengepungan," katanya. Dia juga tidak ingin nama depannya disebut dan masih mengingat jelas "blokade yang mencekik pada 2015 dan 2016, ketika makanan dan barang-barang tidak bisa masuk".
Perang antara kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran melawan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, sempat pecah pada 2014 dan sebagian besar berakhir setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022. Saat itu, pasukan Houthi memblokade sebagian besar jalur menuju Kota Taiz yang dikuasai pemerintah selama hampir dua tahun. Blokade bahan pangan, suplai medis, dan bantuan kemanusiaan membuat harga melonjak dan menempatkan warga di ambang wabah kelaparan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pekan ini sedikitnya 674 orang tewas dan 2.998 lainnya terluka sejak pertempuran meningkat pada Agustus. Namun, karena bentrokan masih berlangsung, jumlah korban tewas kemungkinan sudah lebih tinggi.
Konflik tersebut juga menyebabkan lebih dari 132 ribu orang mengungsi, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 90 ribu orang mencari perlindungan di wilayah Aden, Lahj, Abyan, dan Al Dhale'e, bahkan hingga Marib, kata Armen Yedgaryan, perwakilan badan pengungsi PBB di Yaman, pada Selasa (22/9).
Dia juga memperkirakan pertempuran yang kian sengit dapat memicu gelombang pengungsian baru. Semakin banyak orang diperkirakan akan melarikan diri ke Djibouti, Somalia, dan negara-negara lain, selain mengungsi ke wilayah lain di dalam Yaman.
"Kondisi para pengungsi semakin buruk ketika mereka tiba di lokasi-lokasi pengungsian yang sudah padat dan sangat membutuhkan tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan. Situasi ini menambah tekanan terhadap layanan dan infrastruktur yang sudah rapuh," katanya.
Bahkan sebelum eskalasi terbaru, lebih dari 5,2 juta orang telah mengungsi di dalam Yaman. Pertempuran yang kini berlangsung semakin memperparah krisis kemanusiaan yang sudah sangat buruk di negeri itu, kata badan pengungsi PBB.
Sekitar 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk mereka yang mengungsi di dalam negeri serta sekitar 65 ribu pengungsi dan pencari suaka, terutama dari Somalia dan Ethiopia.