NADIKABAR.COM — Yayasan Guru Belajar meraih penghargaan internasional UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2025-2026 melalui program Collective Teacher Leadership Development Programme.

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Guru Sedunia (World Teachers’ Day) di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis, Senin (5/10).

"Selamat kepada Yayasan Guru Belajar dan terutama kepada para guru serta komunitas yang menjadi jantung gerakan ini. Menjadi salah satu dari tiga penerima bersama Türkiye dan Ethiopia juga membuka kesempatan penting untuk membangun jejaring dan kolaborasi internasional," ujar Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO I.G.A.K. Satrya Wibawa, dalam keterangan yang diterima di Paris, Selasa.

Satrya menilai pencapaian ini membuktikan bahwa praktik pendidikan yang tumbuh dari Indonesia mampu berkontribusi signifikan dalam percakapan global mengenai masa depan profesi pendidik.

Yayasan Guru Belajar menjadi satu dari tiga penerima penghargaan dunia tahun ini bersama Öğretmen Akademisi Vakfı–Teachers’ Academy Foundation (ÖRAV) dari Türkiye dan Gondar College of Teachers’ Education dari Ethiopia.

Ketiga lembaga tersebut berhak membagi rata total dana hibah senilai 300.000 dolar AS (masing-masing menerima 100.000 dolar AS) untuk pengembangan program lanjutan.

Program Development Specialist Yayasan Guru Belajar Muhammad Luqman Hakim, yang hadir menerima penghargaan tersebut, menyampaikan bahwa program Collective Teacher Leadership Development yang diluncurkan sejak 2021 telah menjangkau 61.717 guru di 91 kabupaten/kota.

"Selama ini guru sering diposisikan sebagai pelaksana yang menjalankan instruksi dari atas, jarang terlibat dalam pengembangan profesionalnya. Jadi ketika guru diajak menjadi pengambil keputusan, berkolaborasi dengan murid dan sesama guru, itu butuh waktu dan rasa aman untuk mencoba," kata Luqman.​​​​​​​

Luqman menjelaskan, tantangan terbesar dalam pengembangan kapasitas pendidik terletak pada pengubahan mental model atau cara pandang terhadap posisi guru dalam sistem pendidikan.

Melalui pendekatan terpadu - meliputi pembelajaran digital, pendampingan antarguru, refleksi, dan kolaborasi lintas sektor - guru didorong menjadi pemimpin kolektif dalam ekosistem pendidikan.

Dukungan dana dari UNESCO-Hamdan Prize nantinya akan diperluas untuk memperkuat komunitas guru di daerah-daerah terpencil, memperluas pemanfaatan teknologi, serta mengukur dampak perubahan terhadap kualitas pembelajaran murid.

Penganugerahan tahun ini terasa makin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 60 tahun Rekomendasi ILO/UNESCO tentang Status Guru tahun 1966.

Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany bersama pimpinan ILO, UNICEF, dan Education International kembali menegaskan komitmen global bahwa setiap pembelajar berhak mendapatkan guru yang terlatih, terdukung, dan berdaya dalam jalurnya.