NADIKABAR.COM — Yayasan Kehati mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Kampung Sukagalih, Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dengan mengintegrasikan edukasi konservasi Owa Jawa dan pengembangan ekonomi lokal.
Manager Program Kehutanan Yayasan Kehati Christian Natalie mengatakan, pengembangan ekowisata tidak hanya bertujuan menarik pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
"Yang ingin dibangun bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan juga kegiatan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga alam," kata Christian dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Pengembangan ekowisata tersebut melibatkan kelompok perempuan dan orang muda, di antaranya melalui pembenahan jalur trekking, perbaikan fasilitas sanitasi di area berkemah, serta pengembangan produk olahan hasil hutan bukan kayu.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, misalnya, mengembangkan produk manisan terong panjang dan dodol waluh yang masih dalam tahap uji coba dan mulai dipasarkan melalui warung serta kedai kopi.
Sementara itu, Komunitas Sawala Leuweung berperan dalam pemetaan jalur trekking (pendakian) dan pengembangan kegiatan edukasi lingkungan. Sebanyak enam titik telah diidentifikasi untuk pemasangan papan informasi guna membantu pengunjung mengenali keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
Potensi edukasi juga diperkuat melalui pengenalan Owa Jawa (Hylobates moloch), primata endemik Pulau Jawa yang berstatus terancam punah (endangered) berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Di Kecamatan Kabandungan, Yayasan Kehati mendukung kegiatan konservasi Owa Jawa melalui pemetaan sebaran, pendugaan populasi, dan kampanye edukasi. Dalam pemetaan awal, tim mengidentifikasi sedikitnya 39 kelompok Owa Jawa di delapan lokasi pengamatan. Temuan tersebut masih dianalisis dan belum menjadi estimasi populasi final.
Menurut Christian, informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan materi edukasi mengenai habitat satwa liar dan pentingnya menjaga kelestarian hutan.
"Dengan pendekatan tersebut, pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga memahami keanekaragaman hayati serta peran masyarakat dalam konservasi" tuturnya.
Kehati menilai pengembangan ekowisata Sukagalih masih membutuhkan peningkatan kapasitas pengelola, pengembangan layanan wisata, dan kerja sama berbagai pihak agar dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.