NADIKABAR.COM — Raja Yordania, Abdullah II telah memerintahkan aparat keamanan untuk bertindak tegas dan memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah gereja di Provinsi Karak yang menewaskan sembilan orang dan melukai 40 lainnya.

Sementara, Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengutuk serangan tersebut, seraya menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan merusak persatuan antara umat Muslim dan Kristen di Yordania.

Dalam pernyataannya, Patriarkat menyebut jika tujuan serangan itu adalah mengusir komunitas Kristen dari tanah mereka, maka hal itu justru akan semakin memperkuat keterikatan mereka terhadap tanah tersebut.

Secara terpisah, Raja Abdullah II menegaskan "tidak ada ruang untuk kelonggaran ketika menyangkut nyawa warga Yordania".

Dia berjanji akan memburu para pelaku serangan bersenjata tersebut.

Pernyataan itu disampaikannya saat memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional.

Serangan itu menyasar para pelayat dalam upacara pemakaman di sebuah gereja Ortodoks Yunani pada Jumat (23/10).

Raja menggambarkan serangan itu sebagai "aksi teror yang memalukan dan asing bagi nilai-nilai ksatria serta keharmonisan Yordania".

"Keamanan dan keselamatan warga Yordania adalah garis merah," tegasnya.

Dan, "tangan keadilan akan menjangkau setiap teroris".

Warga dan aparat keamanan berkumpul di luar sebuah gereja Ortodoks Yunani di Desa Hammoud, Provinsi Karak, Yordania, setelah insiden penembakan pada Jumat (23/10). (AFP via Getty Images)

Dia juga menekankan bahwa serangan tersebut tidak akan mengintimidasi rakyat Yordania maupun menggoyahkan persatuan nasional negara itu.

Raja memerintahkan aparat keamanan untuk memburu dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku, serta melawan penyebaran rumor dan informasi menyesatkan yang dapat memicu ketakutan dan perpecahan.

Hingga Minggu (26/10), aparat keamanan masih memburu para pelaku.

Jurnalis BBC Arabic, Majdi Qassous, melaporkan adanya pos-pos pemeriksaan di jalan yang menghubungkan Karak dengan ibu kota Amman.

Pasukan keamanan menghentikan kendaraan dan memeriksa identitas para penumpangnya, terutama laki-laki.

Korban tewas akibat penembakan yang menargetkan gereja Ortodoks Yunani di Desa Hammoud kini berjumlah sembilan orang, menurut data terbaru.

Tim BBC Arabic yang mengunjungi Rumah Sakit Militer Pangeran Ali di Karak pada Sabtu (24/10) pagi mewawancarai sejumlah korban luka yang tengah menjalani perawatan.

Salah seorang saksi, Nadia Halsa, menggambarkan peristiwa itu sebagai "gempa bumi".

Dia mengatakan suara tembakan terdengar sangat keras.

Ketika keluar dari gereja untuk mencari putranya, dia mendapati sejumlah korban tergeletak di halaman gereja.

Saksi lain, Sasha Amarin, yang dirawat akibat luka di perut dan kaki, mengatakan awalnya dia mengira suara letusan berasal dari perselisihan keluarga.

Tapi saat keluar dan melihat kejadian tersebut, dia menyadari situasinya jauh lebih serius.

Para saksi menggambarkan suasana panik di dalam gereja ketika orang-orang menjatuhkan diri ke bawah bangku untuk mencari perlindungan dan menjauh dari jendela.

Doa dan teriakan terdengar di seluruh bagian bangunan, sementara sebagian jemaat berusaha menyelamatkan diri.

Khalid al-Mdanat, yang berada di gereja saat kejadian, mengatakan kepada BBC Arabic bahwa serangan itu berlangsung sekitar 15 menit, dengan "orang-orang mencoba melarikan diri sementara tembakan masih berlangsung".