"Orang-orang mulai saling berdesakan dan menjatuhkan diri ke lantai," katanya.

"Sebagian berusaha berlindung, sebagian mendampingi anggota keluarga yang menjadi korban, sebagian lagi memeluk erat anak-anak mereka atau membantu teman-teman yang berada bersama mereka di gereja."

Dia mengatakan para pelaku meninggalkan lokasi melalui pintu gereja dan melarikan diri menggunakan sebuah truk pikap sambil terus melepaskan tembakan.

Saksi lain mengatakan, "Saya mendengar suara yang terdengar seperti perang baru saja dimulai.

"Awalnya saya mengira itu korsleting listrik. Namun ketika saya melihat ke luar, ada orang-orang yang tergeletak dan terluka. Pemandangannya sangat mengerikan."

Seorang perempuan yang berada di dalam gereja mengatakan suara ledakan terdengar beberapa detik setelah doa dipanjatkan.

"Kemudian terdengar rentetan tembakan senapan otomatis dan suara kaca pecah. Saat itu kami mulai menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi.

Menurut laporan jurnalis BBC Arabic, Majdi Qassous, kedua orang tuanya berada di gereja saat serangan terjadi ketika menghadiri upacara pemakaman.

Sekitar pukul 14.15 waktu setempat, dia menerima telepon dari ibunya yang mengabarkan adanya penembakan di area gereja.

Menurut kesaksian keluarganya, para pria bersenjata memasuki halaman luar dan melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang berada di lokasi.

"Orang-orang berusaha berlindung di bawah bangku gereja dan menjauh dari jendela. Doa, jeritan, dan kepanikan terdengar di berbagai sudut, sementara sebagian lainnya mencoba melarikan diri," kata Qassous.

Para korban luka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Militer Pangeran Ali di Karak.

Di luar rumah sakit, kerumunan keluarga dan warga tampak berkumpul dalam suasana duka dan syok.

Perdana Menteri (PM) Jordania, Jaafar Hassan mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari, mulai Jumat (23/10), dengan bendera dikibarkan setengah tiang.

Raja Abdullah II juga mengunjungi para korban luka pada Jumat dan menegaskan bahwa Yordania akan menghadapi "aksi teroris yang menargetkan Karak dengan hukuman paling berat".

"Darah warga Yordania sangat berharga, dan kami akan menghantam dengan tangan besi siapa pun yang menyerang negara ini," katanya.

Perdana Menteri Jaafar Hassan menyatakan serangan tersebut merupakan akibat dari "ideologi terorisme takfiri dan ekstremisme yang membutakan".

Mengenai kemungkinan hubungan pelaku dengan kelompok bersenjata tertentu, juru bicara pemerintah Mohammad Al-Momani mengatakan hal itu masih menjadi bagian dari penyelidikan dan akan diumumkan setelah ada bukti yang jelas.

Menteri Dalam Negeri Mazen Al-Faraya menyebut insiden itu sebagai "operasi teroris" yang dilakukan oleh "sekelompok ekstremis".

Dia menambahkan bahwa aparat keamanan masih terus berupaya memburu para pelaku.

Direktur Keamanan Publik Yordania, Obaidullah Al-Maayta, mengatakan masih terlalu dini untuk menyebut identitas para tersangka.

Menurutnya, penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kepastian kapan proses tersebut akan selesai.

Televisi pemerintah kemudian menayangkan rekaman yang memperlihatkan tiga pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah gereja sebelum bergerak menuju pintu masuk sambil terus menembak.

Perdana Menteri Yordania, Jaafar Hassan memimpin rapat keamanan di Karak setelah serangan tersebut dan menegaskan bahwa para pelaku tidak akan lolos dari hukuman.

Dia mengatakan seluruh sumber daya keamanan telah dikerahkan untuk memburu para penyerang dan membawa mereka ke pengadilan.

Dia juga berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang menghasut perpecahan.