Jaksa Agung di Amman, Hassan Al-Abdallat, memutuskan untuk melarang publikasi informasi terkait penyelidikan kasus tersebut, kecuali yang dirilis media resmi pemerintah di bawah pengawasan kementerian terkait.
Direktorat Keamanan Publik juga memperingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai insiden itu.
Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengutuk serangan terhadap Gereja Santo George di Desa Hammoud, seraya menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan merusak persatuan antara umat Muslim dan Kristen di Yordania.
Dalam pernyataannya, Patriarkat menyebut bahwa jika tujuan serangan itu adalah mengusir komunitas Kristen dari tanah mereka, maka hal itu justru akan semakin memperkuat keterikatan mereka terhadap tanah tersebut.
Lembaga itu juga menyerukan agar lonceng gereja di Yordania dan Palestina dibunyikan serentak pada Sabtu siang untuk mengenang para korban.
Pastor-pastor Ortodoks Yunani berjalan di lokasi penembakan di sebuah gereja di Desa Hammoud, Provinsi Karak, Yordania, pada Jumat, 23 Oktober 2026 (AFP via Getty Images)
Serangan tersebut juga dikutuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Lebanon Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, yang menyebut serangan terhadap rumah ibadah sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, yang beragama Kristen, mengecam apa yang disebutnya sebagai "serangan teroris keji" terhadap gereja tersebut.
Menurut pernyataannya yang dikutip media Lebanon, serangan itu "menodai kesakralan kematian dan upacara pemakaman serta bertentangan dengan seluruh nilai agama dan kemanusiaan".
Menurut data pemerintah, umat Kristen mencakup sekitar dua hingga tiga persen populasi Yordania dan mayoritas berafiliasi dengan Gereja Ortodoks.
Menurut salah satu saksi, antara 150 hingga 200 orang berada di dalam dan sekitar gereja ketika penembakan terjadi (Reuters)
Rekaman CCTV yang telah diverifikasi oleh BBC tampak menunjukkan tiga pria bersenjata bergerak dari sebuah jalan menuju gereja tersebut.
Dua pelaku terlihat memasuki area yang diduga merupakan jalur masuk kendaraan ke kompleks gereja.
Keduanya kemudian sempat mundur sebelum kembali bersama seorang pria ketiga. Ketiga orang itu tampak membawa senjata genggam.
Rekaman terpisah yang diyakini diambil setelah serangan terjadi menunjukkan sejumlah korban tewas dan korban luka tergeletak di lokasi, di tengah suasana yang kacau.
BBC belum dapat secara independen memastikan identitas para pelaku ataupun afiliasi mereka dengan kelompok tertentu.
Menurutnya, situasi terus memburuk selama sekitar 10 menit tanpa henti. Setelah berhasil keluar dari gereja, ia melihat banyak korban berada di halaman kompleks gereja.
Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazen Al-Faraya, menggambarkan insiden itu sebagai peristiwa yang "menyedihkan dan mengerikan", serta "belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Kerajaan Hasyimiyah Yordania".
Pengamanan diperketat di sekitar rumah sakit yang merawat para korban luka akibat serangan di Karak, di tengah suasana yang dipenuhi kemarahan dan kesedihan warga, terutama keluarga korban tewas dan luka-luka.
Banyak warga tampak terpukul ketika jalan-jalan di sekitar rumah sakit ditutup. Sejumlah orang terpaksa memarkir kendaraan mereka jauh dari lokasi dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Langkah-langkah keamanan juga diperketat menjelang kunjungan Abdullah II untuk menjenguk para korban luka.
Suasana di sekitar rumah sakit tetap tegang. Tangisan dan teriakan terdengar ketika keluarga berduka mengenang orang-orang yang mereka cintai.
Banyak warga tampak syok, ketakutan, dan marah. Sebagian mengungkapkan kekecewaan atas apa yang mereka sebut sebagai "kegagalan mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap para teroris".
Karak merupakan salah satu wilayah di Yordania yang memiliki komunitas Kristen cukup besar, meskipun mayoritas penduduk negara itu beragama Islam.
Kekerasan semacam ini tergolong jarang terjadi di Yordania, meski negara tersebut pernah mengalami sejumlah serangan mematikan pada masa lalu.
Laporan tambahan oleh Majdi Gousous dari BBC Arabic.