NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menilai mubalig berperan strategis dalam menjaga persatuan nasional, memperkuat kesadaran hukum serta membangun kehidupan demokrasi yang harmonis.
Saat membuka kegiatan training of trainers (TOT) dan coaching instruktur (CI) Mubaligh Tingkat Nasional di Jakarta, Kamis (22/10), ia mengatakan Indonesia dibangun di atas kemajemukan agama, suku, bahasa, dan budaya.
"Karena itu, persatuan nasional tidak berarti menyeragamkan pemikiran, tetapi membangun komitmen bersama berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," ucap Yusril, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, tantangan persatuan saat ini antara lain berupa polarisasi politik, penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, intoleransi, dan kesenjangan sosial.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, sambung dia, mubalig memiliki peran penting untuk menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan, mendorong sikap saling menghormati, serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Ditegaskan Yusril bahwa persatuan nasional bukan merupakan tuntutan agar seluruh masyarakat berpikir sama, melainkan sebuah kemampuan suatu bangsa untuk mengelola perbedaan tanpa kehilangan komitmen terhadap kehidupan bersama.
Lebih lanjut, ia berpendapat dakwah memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan berkonstitusi dan supremasi hukum.