NADIKABAR.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, membuat kondisi lingkungan kian memprihatinkan. Aktor Haykal Kamil mengungkap kondisi yang dialami sang kakak, Zaskia Adya Mecca dan Tasya Nur Medina, saat terjun langsung menjadi relawan di lokasi bencana.

Haykal mengaku khawatir dengan kondisi Zaskia dan rombongan relawan di tengah pekatnya kabut asap. Bahkan, aktivitas penerbangan di Palangka Raya disebut terganggu hingga rombongan harus mencari kota lain untuk mendarat. Kondisi udara di dalam kamar hotel pun membuat Zaskia merasa sesak.

Haykal mengatakan dirinya terus memantau kondisi sang kakak melalui grup keluarga. Kabar dari Zaskia dan Tasya yang dibagikan setiap beberapa jam sekali membuat keluarga bisa mengetahui situasi terkini di lokasi bencana.

"Setiap enam jam sekali sepertinya ada kabar yang dibagikan di grup keluarga. Jujur, resah banget karena mereka ke Palangka Raya. Bandaranya sampai ditutup, jadi mereka harus pindah kota untuk mendarat karena aksesnya sudah nggak bisa. Di sana, Kak Ia bilang di dalam kamar hotel pun sesak," kata Haykal Kamil saat ditemui di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026).

Kondisi udara yang buruk juga menjadi salah satu pertimbangan Haykal untuk tidak menyusul sang kakak ke Kalimantan Tengah. Ia mengaku memiliki riwayat asma yang cukup parah saat masih kecil sehingga khawatir kondisinya kambuh jika terpapar kabut asap.

"Ya, dia bilang sesak. Saya sendiri punya asma, jadi itu salah satu pertimbangan untuk nggak berangkat. Saya khawatir karena punya riwayat asma yang cukup parah waktu kecil. Jadi, saya memutuskan untuk nggak ke sana," ungkapnya.

Tak hanya mengkhawatirkan kondisi sang kakak, Haykal juga menyoroti penanganan karhutla yang dinilainya perlu dilakukan secara lebih tegas. Ia menyayangkan jika respons dari pemangku kepentingan hanya sebatas imbauan agar masyarakat tidak membakar hutan.

Menurut Haykal, pemerintah memiliki berbagai instrumen, termasuk aparat penegak hukum, untuk menindak pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.

"Sayang banget kalau pemangku kepentingan hanya bisa bilang, misalnya, mengimbau agar tidak membakar hutan. Kalian punya instrumen, punya polisi, punya TNI. Semuanya punya instrumen, kok jawabannya hanya imbauan?" ujarnya.

Haykal menilai penegakan hukum harus dilakukan secara serius untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, kepemilikan lahan yang terbakar perlu ditelusuri agar pihak yang melanggar aturan dapat dimintai pertanggungjawaban.

"Ini sebenarnya jelas ada aturan yang dilanggar. Kalau memang berani, menurut saya kita bisa melihat siapa orang-orang di baliknya. Nggak sulit, kan? Ketika ada lahan yang terbakar, bisa dilihat itu punya siapa dan apakah mereka menjalankan usahanya dengan baik dan benar," tuturnya.

Haykal berharap pemerintah dan kementerian terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi karhutla. Ia menegaskan masyarakat berhak mendapatkan udara bersih dan lingkungan yang layak, sehingga penanganan bencana tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi juga harus disertai tindakan nyata dan penegakan hukum.