Zulhas mengungkapkan upaya menjaga mangrove tidak dapat berdiri sendiri. Pencegahan sampah di darat dan sungai perlu berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem pesisir. Pendekatan dari hulu hingga hilir juga membantu menjaga sumber daya alam yang menopang perikanan, ekonomi masyarakat pesisir, dan ketahanan pangan.
Bersama United Nations Development Programme (UNDP), Zulhas meluncurkan Program Sungai Lestari di Denpasar dan Badung. Program yang dijalankan di lima lokasi kabupaten/kota di Indonesia ini bertujuan mengurangi kebocoran sampah dari sungai menuju laut sekaligus mendorong peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat.
Zulkifli Hasan menyampaikan apresiasi kepada UNDP Indonesia atas dukungan dalam penanganan sampah sungai. Ia juga mengapresiasi Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI), khususnya Ketua Umum ISOI Nani Hendiarti, yang menyelenggarakan aksi bersih tersebut dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXII ISOI di Bali.
Menurutnya, keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat dan daerah, komunitas, akademisi, dunia usaha, serta mitra pembangunan. Sebagai destinasi wisata dunia, Bali dapat menjadi contoh pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pembangunan infrastruktur pengolahan sampah, termasuk Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), menjadi bagian dari upaya tersebut. Namun, infrastruktur perlu didukung kedisiplinan, perubahan perilaku, dan partisipasi aktif masyarakat agar sampah dapat dicegah dan dikelola secara berkelanjutan.
"Menjaga mangrove berarti menjaga pesisir, ekonomi masyarakat, dan iklim. Melalui Program Sungai Lestari, kita mendorong perubahan dari sekadar membersihkan sampah menjadi mencegah sampah sejak dari sumbernya," imbuhnya.
Laut sebagai sumber pangan masa depan Upaya menjaga ekosistem pesisir dan laut sejalan dengan pesan Menko Pangan dalam Gala Dinner PIT XXII ISOI di Bali, Kamis (15/10). Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kesehatan laut berkaitan erat dengan masa depan pangan Indonesia.
"Laut yang sehat adalah lumbung pangan masa depan Indonesia, dan ilmu pengetahuan adalah kompas agar kita mengelolanya dengan bijak, adil, dan berkelanjutan," kata Zulhas.
Setelah mencapai target swasembada beras, pemerintah menempatkan pemenuhan kebutuhan protein-terutama dari sumber daya laut seperti ikan, udang, dan rumput laut-sebagai salah satu fokus penguatan ketahanan pangan nasional.