NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkap fakta mengejutkan soal ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor. Padahal, komoditas ini sama sekali tidak bisa ditanam di dalam negeri karena iklim tropis Indonesia tidak cocok untuk budidaya gandum.
Zulhas menyebut pada 2024 saat dirinya masih menjabat sebagai anggota DPR, konsumsi gandum nasional tercatat 4 juta ton per tahun. Kini, angka itu disebutnya sudah membengkak menjadi 13 juta ton per tahun.
"Bahaya sekali kalau kita makan yang tidak bisa kita produksi. Dikit-dikit gandum, roti, mie, kue, semuanya dari gandum," kata Zulhas dalam dalam program #ZulhasBikinJelas bersama NadiKabar.
Klaim ini sejalan dengan pernyataannya sendiri pada 2023 silam saat masih menjabat Menteri Perdagangan, ketika ia menyebut impor gandum Indonesia sudah mencapai 13 juta ton per tahun.
Dikutip dari CNBC Indonesia dari sidang ahli di Mahkamah Konstitusi awal 2026 menunjukkan Indonesia mengimpor gandum sebesar 11,76 juta ton pada 2025 menjadikannya komoditas pangan dengan volume impor terbesar, mengalahkan kedelai, gula tebu, jagung, hingga bawang putih.
Ahli yang sama menyebut ketergantungan RI terhadap gandum impor kini mencapai 100 persen.
Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan gandum nasional untuk bahan baku roti, mi instan, hingga kue bergantung penuh pada impor. Padahal Indonesia sebenarnya kaya sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi jalar, kimpul, hingga porang.
"Kentang itu tidak bisa tumbuh sembarangan, hanya di gunung-gunung dan produktivitasnya sebentar. Setelah 5 tahun produktif, tanahnya rusak karena memang kurang cocok. Padahal ubi atau ketela itu jauh lebih kaya gizi dari kentang," jelasnya.
Tren ketergantungan pada gandum impor bukan hal baru. Sejak 2022, sejumlah pejabat berulang kali mengingatkan impor gandum yang terus meningkat, mencapai sekitar 11 juta ton per tahun dengan nilai lebih dari Rp 58 triliun.
Pemasok utamanya berasal dari Australia, Kanada, Brasil, Argentina, dan Ukraina. Bahkan, menjelang 2030, pengusaha tepung terigu nasional dilaporkan CNBC Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman untuk membeli minimal 1 juta ton gandum dari Amerika Serikat setiap tahun hingga 2030, menandakan ketergantungan tersebut masih berlanjut.
Zulhas kemudian membandingkan dengan pengalamannya berkunjung ke sejumlah negara Amerika Latin seperti Kolombia, Nikaragua, Brasil, dan Ekuador. Menurutnya, negara-negara tropis tersebut jauh lebih berhasil mengoptimalkan bahan pangan lokal ketimbang Indonesia.
"Kalau kita di Amerika Latin seperti Kolombia, Nikaragua, dan lain-lain, roti itu dibuat dari tepung singkong. Kalau kita kan tidak mau pusing, pakai gandum saja," katanya.
Di sana, kata Zulhas, produk turunan singkong dan ubi diolah dengan kreatif, mulai dari tepung untuk roti hingga camilan ala kentang goreng, dan disajikan dengan cara yang menarik minat generasi muda.
Bahkan kopi lokal Amerika Latin disebutnya mampu membuat merek-merek asal Amerika Serikat kesulitan menembus pasar di kawasan tersebut karena kalah bersaing dari sisi cita rasa dan penyajian.
Ia menegaskan, ketergantungan pada gandum impor bukan sekadar soal selera makan, melainkan menyangkut kedaulatan dan kesejahteraan puluhan juta petani lokal.
"Kita harus sadar bahwa urusan makan itu menyangkut kedaulatan, kehormatan, dan kesejahteraan saudara-saudara kita sendiri. Kalau kita terus impor gandum, petani kita yang berjumlah lebih dari 100 juta orang akan tersisih dan miskin," tegasnya.
Untuk mengurangi ketergantungan ini, Zulhas mendorong kampus-kampus pertanian lebih aktif meneliti dan mengembangkan varietas pangan lokal baru. Ia mencontohkan negara-negara Amerika Latin yang bahkan memiliki hingga 280 varietas jagung dengan karakteristik berbeda-beda.
Selain riset varietas, Zulhas juga menekankan pentingnya hilirisasi produk pangan lokal agar punya nilai tambah lebih tinggi, alih-alih terus mengekspor bahan mentah dengan harga murah seperti biji kopi tanpa diolah lebih lanjut.
Zulhas menyebut pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis, termasuk program tematik di 40 ribu desa untuk mendorong produksi ikan sebagai sumber protein alternatif, guna mengimbangi pola makan masyarakat yang selama ini didominasi karbohidrat tinggi namun rendah protein.