Zulhas menjelaskan pintu kedua adalah investasi pada proyek PSEL. Untuk mengurangi emisi sekaligus menjawab darurat sampah perkotaan, pemerintah mendorong PSEL di kawasan dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari. Berlandaskan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 dan didukung partisipasi investasi Danantara, empat proyek PSEL strategis telah memulai tahap peletakan batu pertama sepanjang 2026.

"Pendekatan pengolahan sampah menjadi energi memberi manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi sekaligus," jelasnya.

Menurutnya, peluang lain terbuka pada karbon biru. Rehabilitasi ekosistem pesisir berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$909 juta atau sekitar Rp14 triliun per tahun dalam lima sampai 10 tahun mendatang. Potensi tersebut didukung cadangan karbon pesisir dari mangrove dan seagrass yang dapat mencapai 3,4 miliar ton.

Pertanian dan karbon biru juga diproyeksikan menjadi gelombang berikutnya dalam pembiayaan karbon sehingga manfaatnya dapat menjangkau petani, nelayan, dan masyarakat pesisir.

"Aturannya sudah tersedia, registrinya telah berjalan, proyek-proyek awal sudah terbit, dan koordinasi lintas kementerian telah terbentuk. Sekarang kami mengundang modal swasta dan mitra internasional untuk bergerak bersama, dengan manfaat yang juga dirasakan masyarakat di tingkat tapak," ungkapnya.

"Mari jadikan pangan dan alam Indonesia sebagai aset yang dapat dibiayai dunia, dan pastikan pembiayaannya kembali kepada mereka yang menjaganya," tutup Zulhas.