Khusus pengolahan organik dari sumber di tingkat desa atau komunitas, misalnya melalui biodigester, teba, dan komposter, diproyeksikan memiliki porsi sekitar 12,4%. Pengelolaan melalui TPS-3R dan Bank Sampah Induk dengan skala komunal diproyeksikan mencakup 19,8%.

Selanjutnya, TPST berbasis RDF di wilayah yang berdekatan dengan industri semen memiliki potensi sekitar 25,3%. Adapun TPST non-RDF dengan teknologi pirolisis di tingkat perkotaan memiliki potensi sekitar 20%.

Untuk PSEL, teknologi tersebut diarahkan bagi kota atau kabupaten dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari, baik dikelola sendiri maupun melalui skema aglomerasi.