Peneliti menyebut sejumlah situs terdampak merupakan website populer di tingkat regional, termasuk di negara-negara Eropa.
Report URI kini meminta bantuan lembaga keamanan siber nasional dan tim tanggap insiden komputer (CERT) untuk mempercepat penyampaian peringatan.
Meski sebuah website terlihat normal, bukan berarti situs tersebut sepenuhnya aman. Kode berbahaya dapat berjalan di balik halaman tanpa disadari pengunjung.
Pengguna internet disarankan selalu memperbarui browser dan sistem operasi, menghindari instruksi verifikasi mencurigakan yang meminta menjalankan perintah, serta berhati-hati ketika memasukkan informasi pembayaran.
Aktifkan autentikasi dua faktor untuk akun penting dan jangan mengunduh aplikasi dari tautan yang tidak jelas.
Sementara itu, pengelola website perlu rutin memperbarui sistem, memeriksa skrip pihak ketiga, dan memantau perubahan kode yang tidak dikenal.
Perlu dicatat, angka 135 juta merupakan estimasi kunjungan bulanan gabungan, bukan jumlah pengguna yang telah menjadi korban. Peneliti juga belum mengungkap apakah terdapat situs Indonesia dalam daftar tersebut.