Selain dampak Karhutla, dalam periode yang sama juga tercatat 14 penerbangan dibatalkan akibat faktor lain. Faktor tersebut yaitu sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.
Penerbangan terdampak Karhutla tersebut dioperasikan oleh 10 maskapai. Citilink Indonesia mencatat jumlah 478 penerbangan yang terdampak karhutla, diikuti NAM Air sebanyak 300 penerbangan, Wings Air sebanyak 227 penerbangan, dan Super Air Jet sebanyak 161 penerbangan.
Selanjutnya, Surya Mataram mencatat 134 penerbangan terdampak karhutla, Batik Air sebanyak 112 penerbangan, Garuda Indonesia sebanyak 97 penerbangan, TransNusa sebanyak 94 penerbangan, Lion Air sebanyak 41 penerbangan, dan Sriwijaya Air sebanyak 29 penerbangan.
Pembatalan terbanyak dialami Wings Air dengan total 226 penerbangan, disusul Super Air Jet sebanyak 158 penerbangan, dan Citilink sebanyak 115 penerbangan. Adapun keterlambatan terbanyak dialami Citilink dengan 357 penerbangan dan NAM Air dengan 212 penerbangan.
Masalah penerbangan inbas karhutla banyak terjadi di bandara yang ada di wilayah Kalimantan. Mulai dari Bandara Supadio Pontianak, Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Bandara H. Asan Sampit, Bandara Rahadi Oesman Ketapang, hingga Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.