NADIKABAR.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menjalankan pemerintahannya.

Program ini mulai mereka jalankan 6 Januari 2025 dengan 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG di 26 provinsi.

Saat pertama diluncurkan, pemerintah menargetkan MBG menjangkau 3 juta penerima pada Januari-Maret 2025 dan meningkat menjadi 15 juta penerima pada akhir tahun.

Dalam jangka panjang, program ini ditargetkan menjangkau 82,9 juta orang pada 2029, termasuk anak sekolah, santri, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp71 triliun untuk program tersebut.

Seiring berjalannya program, jangkauan MBG terus meluas. Segudang manfaat juga dirasakan penerimanya.

Salah satunya, Kristina Beno. Pada Agustus 2026 lalu, siswi SMPN IV Muting, Merauke, Papua Selatan itu berkisah sebelum adanya MBG, ia tidak pernah sarapan.

Tidak seperti anak lain yang beruntung karena masih bisa sarapan, waktu paginya ia justru habiskan untuk membantu kakak mengambil air dari sumur galian untuk kebutuhan mandi dan mencuci piring ketimbang mengisi perut.

Bukan karena tidak mau. Ketidakadaan sarapan lah yang menjadi penyebabnya.

"Sebelum mendapat MBG itu, dari rumah itu tidak sarapan. Terus sampai di sekolah itu mengantuk juga karena tidak makan," katanya.

Perut kosong punya cara sendiri membebani pelajaran. Saat guru meminta murid mencatat, kantuk sering datang membekap matanya.

"Jadi sebelum mendapat MBG itu kalau guru suruh catat itu sering lelet karena ngantuk. Kalau sudah ada MBG itu semangat karena tahu nanti memakan MBG jadi catatnya dipercepat," jelas Kristina.

Ia juga bercerita, semangat belajarnya berubah sejak ada MBG. Langkah menuju sekolah terasa lebih ringan, karena ada yang dinantikan di ujung perjalanan. Bahkan suasana di kelas pun ikut berubah. Bangku yang biasanya lengang, kini lebih ramai terisi.

"MBG itu memberi motivasi untuk semangat belajar. Kadang kalau di dalam kelas itu cuma 7 orang, 5 orang. Kalau sudah MBG itu bisa 20. Terima kasih banyak Presiden Bapak Prabowo atas MBG-nya," ucap Kristina.

Manfaat juga dirasakan Zuharni, 41 tahun, warga Wonosobo, Jawa Tengah, yang telah hampir satu tahun bekerja sebagai relawan di SPPG Sapuran Jolontoro. Sebelum bergabung dalam program MBG, Zuharni menjalankan usaha berjualan pakaian secara keliling sekitar lima tahun.

Kesempatan untuk bekerja di SPPG ia dapatkan setelah mengetahui adanya pembukaan pekerjaan di dekat tempat tinggalnya.

Ia kemudian mendaftarkan diri dan bersyukur dapat diterima sebagai bagian dari tim yang menjalankan program MBG di wilayahnya.

Bagi Zuharni, lokasi SPPG yang dekat dengan rumah menjadi salah satu alasan utama dirinya tertarik untuk bergabung. Ia dapat berjalan kaki menuju tempat kerja sekaligus tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu yang mengurus keluarga dan anak-anak.

"Karena dekat rumah, bisa sambil mengurus anak-anak, sambil mengurus rumah," ujar Zuharni.

Kesempatan bekerja dekat dari rumah menjadi semakin berarti karena suaminya bekerja di luar kota, tepatnya di Semarang, sebagai pekerja bengkel sekaligus penjaga pabrik.

Sang suami hanya dapat pulang ke Wonosobo sekitar dua minggu sekali. Sementara itu, Zuharni menjalani keseharian bersama ketiga anaknya, termasuk anak bungsunya yang saat ini masih berusia 23 hari.

Dengan bekerja di SPPG, Zuharni merasakan manfaat yang cukup besar bagi kondisi ekonomi keluarganya. Penghasilan yang diperoleh membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai keperluan sekolah anak-anaknya.

"Alhamdulillah sangat terbantu, sangat menolong. Tadinya kalau sebelum kerja di situ kan gali lubang tutup lubang. Sekarang cukup untuk hari-hari, bayar anak-anak sekolah, terus yang lain-lain itu alhamdulillah cukup," katanya.

Bagi Zuharni, pekerjaan tersebut bukan tentang mendapatkan penghasilan yang besar, tetapi memiliki pendapatan yang cukup dan dapat diandalkan untuk membantu keluarganya. Ia bersyukur dapat bekerja sekaligus tetap berada dekat dengan anak-anak dan rumah.

Segendang sepenarian dengan Kristiana dan Zuharni, manfaat MBG juga dirasakan para pelaku UMKM.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat sebanyak 18.614 UMKM terlibat sebagai penyuplai dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 10 November 2025.Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan keterlibatan UMKM dalam program tersebut berpotensi menyerap 2,25 juta tenaga kerja.

"Sekitar 2,25 juta tenaga kerja yaitu dengan potensi 450 ribu UMKM supplier di 30 ribu dapur MBG terlibat, rata-rata UMKM mempekerjakan 1 sampai 5 orang," ujar Maman.Presiden Peternak Layer Indonesia Ki Musbar Mesdi menyebut para peternak layer atau ayam telur juga tertimpa berkah MBG.

Dia berkata para peternak diminta memasok telur ayam dua kali seminggu. Pasokan dikirim ke 190 dapur umum yang melayani Makan Bergizi Gratis.

"Buah manisnya harga jual kita terjamin jadinya. Tapi peternak tidak memanfaatkan momentum karena ada serapan naik tinggi, kita naikkan, tidak. Kita sudah bermitra sejajar dengan pemerintah sejak 3-4 tahun lalu," kata Musbarawal tahun lalu.

Dia berkata kebutuhan telur untuk Makan Bergizi Gratis tahun ini sekitar 1.875 ton per minggu. Telur-telur itu dipasok ke 5.000 dapur umum yang dibangun bertahap tahun 2025.Musbar mengatakan berkah untuk peternak dari Makan Bergizi Gratis sangat besar. Bahkan, lebih besar dari program bansos telur.

"Kalau bansos itu kan kita sebulan sekali. Kalau MBG dua kali seminggu. Bisa dinilai sendiri lebih untung mana," ujarnya.

Meski mendatangkan banyak manfaat, pelaksanaan MBG tak lepas dari masalah.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penyidikan dugaan korupsi tata kelola MBG periode 2025-2026 oleh Kejaksaan Agung.

Tidak tanggung-tanggung. Korupsi menyeret Dadan Hindayana yang saat itu menjabat sebagai Kepala BGN dan sejumlah pentolan lembaga tersebut.

Dadan sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus itu pada 3 Juni 2026 bersama dengan mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Setelahnya hingga sampai 18 Juni 2026, Kejagung menetapkan tersangka lainnya termasuk dari unsur swasta.

Dalam perkara tersebut, penyidik mendalami dugaan penyimpangan dalam penentuan mitra yayasan SPPG, termasuk dugaan adanya yayasan yang tetap memperoleh status mitra meski tidak memenuhi persyaratan.

Kejagung juga menyelidiki dugaan jual beli rekomendasi atau perizinan titik dapur yang melibatkan mantan pimpinan BGN.

Selain itu, penyidik mengusut dugaan penggelembungan harga pengadaan sejumlah barang, antara lain 21.801 unit motor listrik senilai Rp1,03 triliun, 32 ribu pasang sepatu, 31.994 unit tablet, dan 5.400 unit televisi berukuran 75 inci. Dugaan tindak pidana dalam perkara tersebut masih harus dibuktikan melalui proses hukum.

Pemerintah tak berdiam diri atas masalah itu. Mereka melakukan sejumlah pembenahan agar Program MBG bersih dari korupsi dan sempurna pelaksanaannya.

Memasuki dua tahun pemerintahan misalnya, pemerintah menyiapkan empat prioritas pembenahan MBG, yakni mempercepat pemerataan layanan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), memperbaiki tata kelola SPPG, meningkatkan keamanan dan mutu gizi makanan, serta menertibkan data penerima manfaat dan memberantas penyimpangan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengatakan pemerintah mempercepat pemerataan layanan, terutama di wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi.

BGN mengaktifkan 480 SPPG baru di 16 provinsi di wilayah Indonesia timur pada 2 Oktober 2026. Pada 14 Oktober 2026, pemerintah kembali mengaktifkan 980 SPPG di Sumatera, Kalimantan, dan Bali.

"Memasuki dua tahun pemerintahan, arahan Presiden, MBG segera diimplementasikan secara merata, terutama di wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Kekurangan harus dibenahi, tata kelola ditertibkan, dan penyimpangan kita tindak tegas," kata Zulhas dalam keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, 20 Oktober 2026.

Pembenahan juga menyasar pembiayaan operasional dapur. Sejak awal Oktober 2026, pemerintah mengubah skema insentif SPPG.

Jika sebelumnya insentif diberikan secara tetap sebesar Rp6 juta per hari per dapur, sekarang semua diberikan berbasis jumlah porsi yang disediakan, yakni Rp2.000 per porsi.

Dengan kata lain, melalui mekanisme baru tersebut, besaran insentif disesuaikan dengan jumlah porsi yang dilayani. Dapur yang tidak beroperasi atau sedang dikenai penghentian operasional juga tidak memperoleh insentif untuk hari ketika tidak melayani penerima manfaat.

Pemerintah juga mendata ulang SPPG untuk memastikan dapur yang beroperasi memenuhi persyaratan. Berdasarkan data BGN per 20 Oktober 2026, sebanyak 26.385 SPPG berstatus operasional dalam kategori Surat Penetapan Sementara (SPS 2).

Persyaratannya mencakup kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), tidak sedang dikenai penghentian operasional, tidak pernah mengalami kejadian fatal, dan melayani lebih dari 1.000 penerima manfaat.

Penertiban dilakukan di tengah evaluasi terhadap dapur yang tidak memenuhi ketentuan. Pada Agustus 2026, pemerintah mengumumkan penutupan permanen 455 SPPG yang tidak memenuhi persyaratan SLHS.

Sementara itu, hingga akhir September 2026, sebanyak 1.276 SPPG dilaporkan dihentikan sementara karena belum memiliki sertifikat tersebut.

Keamanan pangan menjadi salah satu persoalan yang turut dievaluasi pemerintah setelah munculnya laporan dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG.

Data Kementerian Kesehatan yang dikutip dalam laporan pada September 2026 mencatat 50.059 orang terdampak dalam 560 kejadian keracunan pangan yang berkaitan dengan MBG hingga 2 September 2026. Kejadian tersebut dilaporkan tersebar di 36 provinsi.

Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 43.838 orang terdampak dugaan keracunan sejak program berjalan pada 2025 hingga akhir Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 15.735 orang tercatat terdampak sepanjang Januari-Agustus 2026, termasuk 3.079 orang pada Agustus saja.

Pemerintah merespons persoalan keamanan pangan dengan memperkuat pengawasan penyimpanan, pengolahan, dan distribusi makanan.

Kepala Bakom RI Syahganda Nainggolan mengatakan evaluasi dilakukan antara lain dengan memperbaiki fasilitas penyimpanan bahan pangan agar bahan makanan tidak rusak sebelum didistribusikan.

"Satu soal kebersihan. Sekarang digunakan pendingin-pendingin untuk menyimpan barang-barang. Jangan sampai barang-barang ayam apa segala itu bisa basi sehingga didistribusikan sudah basi. Yang kedua itu yang namanya sistem CCTV," ujar Syahganda pada 21 Oktober 2026.

BGN juga menerapkan standar operasional prosedur (SOP) pendinginan makanan sejak 4 September 2026. Ketentuan tersebut mengatur pengendalian suhu dan waktu, penggunaan wadah serta peralatan yang bersih, dan pencatatan proses pendinginan sebelum makanan memasuki tahap pemorsian.

Untuk memperkuat pemantauan, BGN menguji coba integrasi CCTV dari sekitar 70 SPPG ke pusat pemantauan dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).Sistem ini dirancang untuk membantu memantau kepatuhan terhadap SOP, mulai dari persiapan bahan makanan dan proses memasak hingga pencucian wadah makan.

Pemerintah juga mencoba memperbaiki sistem penyajian makanan.

Sebelumnya, penyajian MBG dilakukan dengan menggunakan ompreng. Nah, saat ini pemerintah tengah menguji coba penyajian MBG dengan sistem prasmanan di 66 SPPG yang tersebar di 10 provinsi.

Menurut Zulhas, metode tersebut dapat menjaga makanan tetap hangat, mengurangi sisa makanan, dan mendukung edukasi gizi melalui keterlibatan guru serta siswa. Hasil uji coba akan dievaluasi sebelum penerapannya diperluas.

Perbaikan juga dilakukan terhadap penerima program. Pemerintah ingin memastikan penyaluran MBG tak mengalami duplikasi, terutama pada kelompok siswa dan santri yang berpotensi tercatat dalam lebih dari satu kategori.

Data penerima akan diintegrasikan dengan data siswa, santri, serta kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pemerintah menargetkan validasi berdasarkan nama dan alamat (by name by address) serta Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Hingga 9 Oktober 2026, pemerintah mencatat jumlah penerima manfaat MBG mencapai 57,49 juta orang. Angka tersebut menunjukkan perluasan jangkauan program sejak peluncuran pada Januari 2025, meski masih di bawah target jangka panjang sebesar 82,9 juta penerima.

Dari sisi anggaran, BGN mengajukan kebutuhan Rp240,20 triliun untuk 2027 dan sudah disetujui DPR.