NADIKABAR.COM — Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya berusaha tumbuh, tetapi mulai menata ulang sumber pertumbuhannya. Di tengah perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta tekanan perdagangan internasional, Indonesia tetap menjaga stabilitas sekaligus memperkuat fondasi menuju kemandirian ekonomi.
Ukuran paling dasar dari keberhasilan itu terlihat pada pertumbuhan ekonomi. Tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen. Memasuki 2026, momentumnya berlanjut: pertumbuhan mencapai 5,61 persen pada triwulan I dan 5,29 persen pada triwulan II. Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi domestik, investasi, dan belanja pemerintah tetap bekerja sebagai mesin ekonomi nasional.
Capaian tersebut penting karena pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik. Pertumbuhan berarti aktivitas usaha bergerak, lapangan kerja tercipta, daya beli terjaga, dan kepercayaan terhadap masa depan ekonomi tetap hidup. Pemerintahan Prabowo-Gibran menghadapi tuntutan besar: menjaga ekonomi tetap tumbuh tanpa mengorbankan stabilitas harga, disiplin fiskal, dan ketahanan eksternal. Sejauh ini, arah kebijakannya menunjukkan keseimbangan yang cukup baik.
Di bidang investasi, pemerintah berhasil menjaga Indonesia tetap menjadi tujuan yang menarik. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, serta menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung. Angka ini telah memenuhi 49,5 persen target investasi nasional tahun 2026. Ini adalah sinyal penting bahwa dunia usaha masih percaya pada prospek Indonesia.