Yang lebih penting, investasi mulai diarahkan bukan hanya untuk mengejar nilai nominal, melainkan untuk memperkuat struktur ekonomi melalui hilirisasi. Investasi hilirisasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp300,1 triliun, atau hampir 30 persen dari total investasi nasional. Hilirisasi mineral-mulai dari nikel, bauksit, tembaga, hingga besi baja-membuka jalan agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi eksportir bahan mentah.
Inilah perubahan cara pandang yang patut diapresiasi. Negara yang kaya sumber daya tidak boleh puas hanya menjual isi perut buminya. Nilai tambah harus tinggal di dalam negeri, industri harus tumbuh, teknologi harus masuk, dan tenaga kerja Indonesia harus memperoleh manfaat yang lebih besar. Hilirisasi bukan kebijakan jangka pendek; ia adalah jalan panjang untuk membangun kedaulatan ekonomi.
Di sisi perdagangan, kinerja ekspor juga tetap positif. Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, meningkat 4,74 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah dinamika pasar global yang tidak mudah, capaian ini mencerminkan daya tahan sektor produksi nasional dan kemampuan pelaku usaha Indonesia mencari ruang di pasar internasional.
Stabilitas harga pun masih terjaga. Inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Pengendalian inflasi memang tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri, terutama terkait harga pangan dan biaya hidup masyarakat. Namun, stabilitas ini menunjukkan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia tetap bekerja di tengah tekanan eksternal.