Salah satu langkah yang menjadi perhatian Eddy dalam mempercepat transisi energi adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya. Menurutnya, target pembangunan pembangkit tersebut perlu didukung percepatan pelaksanaan proyek, penguatan jaringan transmisi, dan pengembangan penyimpanan energi.
"Presiden Prabowo pada Maret 2026 telah menegaskan target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW. Program ini perlu terus dikawal melalui percepatan pembangunan proyek, penguatan jaringan transmisi, pengembangan penyimpanan energi, dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri," ucap Eddy.
Selain pengembangan tenaga surya, perencanaan ketenagalistrikan nasional juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas energi bersih.
Ia menyoroti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW di antaranya direncanakan berasal dari EBT serta pengembangan penyimpanan energi sebesar 10,3 GW.
Eddy menilai target tersebut perlu diikuti pelaksanaan yang konsisten agar peningkatan kapasitas energi bersih dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung penurunan emisi. Ia juga menyoroti capaian bauran EBT nasional sebesar 15,75 persen pada 2025, dengan kapasitas terpasang pembangkit EBT mencapai 15.630 MW.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal awal untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Pengembangan lebih lanjut perlu didukung peningkatan investasi, penyederhanaan proses perizinan, kepastian regulasi, serta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.
"Angka-angka ini menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan terus berjalan dan masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Kita perlu mempercepat pemanfaatan potensi tenaga surya, air, bayu, dan panas bumi, sekaligus memastikan transisi ini memberikan manfaat ekonomi melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional," katanya.