NADIKABAR.COM — Dua warga asal Solo, yakni Ahda Dhiyaurrohman (19) dan Aldo Nurahmansyah (19) menjadi korban terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Keduanya diketahui akan merantau ke Kalimantan bekerja di perusahaan sawit.

"Belum ada kabar sampai sekarang. Kemarin bilangnya mau merantau ke Kalimantan kerja di kelapa sawit," kata kerabat yang mengasuh Ahda sejak kecil, Saryanto, saat ditemui awak media di rumahnya, Gandekan, Jebres, Kota Solo, Senin (14/9/2026).

Saryanto mengatakan Ahda sebelumnya sempat berpamitan kepadanya untuk bekerja ke Kalimantan. Ahda juga sempat datang ke rumah Saryanto pada Sabtu lalu untuk berpamitan.

"Ke sini (rumah) hari Sabtu, bilang pamitan mau merantau, ya bilang, 'Pak, saya mau kerja'. Saya sempat tanya sudah pamit Abi dan Umi belum," ujarnya.

Ia mengatakan Ahda baru pertama kali pergi untuk bekerja ke luar daerah. Rencananya, dia akan bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan setelah diajak oleh temannya.

"Baru pertama merantau, sebelumnya kerja di Palur di rumah makan," ujar Saryanto.

Sebelum berangkat, ia mengatakan bahwa kedua orang tua Ahda belum memberikan izin. Saryanto mengaku baru mengetahui hal tersebut setelah mendatangi rumah keluarga Arda.

"Saya ke sana tadi pagi, katanya belum, abinya sama umiknya nggak ngizinkan," tuturnya.

Keluarga pun telah berupaya mencari informasi mengenai keberadaan Ahda. Mereka disebut telah berkomunikasi dengan kepolisian, termasuk Polres dan pihak di Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

"Ya itu, sudah, abinya sudah mencari. Sudah sama Polres, sama Tanjung Perak di sana," katanya.

Saryanto mengatakan komunikasi terakhir dengan Ahda terjadi saat pria 19 tahun itu masih berada di atas kapal. Saat itu Ahda sempat melakukan percakapan video dengan kerabatnya.

"Pas naik itu masih video, video call, berarti kemarin ya," ujarnya.

Dalam video call tersebut, Ahda terlihat berada di atas kapal. Menurut Saryanto, tidak banyak percakapan yang terjadi. Ahda hanya berpamitan dan meminta didoakan.

"Nggak ngobrol kok, cuma begini, dada-dada di atas geladak itu. 'Doain ya, Pak,' gitu," ungkapnya.

Saryanto mengatakan saat itu Ahda masih dalam kondisi baik dan terlihat berada di atas kapal. Kini, keluarga hanya bisa berharap Arda ditemukan dalam keadaan selamat. Apalagi, Saryanto mengetahui adanya sejumlah penumpang yang telah berhasil diselamatkan.

"Ya moga-moga selamat lah," harapnya.

Saryanto mengenang Ahda sebagai sosok anak yang baik. Ia mengatakan hubungannya dengan Arda bukan sekadar kerabat, melainkan sudah seperti orang tua karena mengasuh Ahda sejak kecil hingga SMA.

"Ahda itu dulu ke itu Pondok Pesantren Mubarok. Nah, terus nggak kerasan, keluar. Terus masuk pondok lagi, nggak kerasan lagi. Nah itu ikut kerja paket di MTA. Terus dapat ajakan sama temannya itu diajak kerja di kelapa sawit," terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh paman Aldo Nurahmansyah (19), Suyono, yang mengatakan keponakannya berangkat ke Kalimantan pada Jumat (11/9) lalu. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Aldo berangkat bersama sejumlah temannya.

"Ini baru berangkat hari Jumat. Mungkin Kamis malam ya, mungkin hari Jumat. Terus Minggu pagi apa malam itu ada musibah. Jadi berangkat dari rumah hari Jumat pagi," kata Suyono kepada wartawan, Senin (14/9).

Suyono menyebut Aldo berniat bekerja untuk membantu kondisi ekonomi keluarganya. Aldo disebut sudah lama berusaha mencari pekerjaan.

"Ya mungkin sudah lama dia selalu berusaha ingin bekerja. Berusaha bekerja membantu orang tua yang saat ini sudah tidak bekerja orang tuanya Aldo," ujarnya.

Menurut Suyono, Aldo mendapat pekerjaan di Kalimantan di sektor perkebunan sawit. Keberangkatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman pertama Aldo merantau maupun bekerja.

"Informasi yang kita terima kerja di sawit," ungkapnya.

Suyono mengaku sempat bertemu Aldo sebelum keberangkatannya. Dia juga memberikan pesan kepada Aldo agar meminta doa restu kepada ibunya sebelum pergi merantau.

"Saya sempat pamit dengan orang tuanya. Malah saran saya, pamit dulu minta doa restu kepada ibumu selaku surgamu. Itu nomor satu," tutur Suyono.

Dia mengatakan ibu Aldo sebenarnya berat melepas anaknya untuk bekerja jauh di Kalimantan. Namun, Aldo tetap memiliki tekad untuk berangkat bersama teman-temannya.

"Ibunya sendiri mungkin secara hati tidak rela. Kerja di Solo atau Palur, kalau bisa. Cuman anak muda ya tahu sendiri, ada teman-temannya yang lain," katanya.

Suyono menuturkan hingga kini keluarga belum mendapatkan informasi lanjutan mengenai keberadaan Aldo setelah kapal yang ditumpanginya mengalami musibah.

"Ya, untuk saat ini kita belum ada kabar tindak lanjut," ucapnya.

Suyono mengatakan Aldo berkependudukan di Kepatihan Wetan RT 06, RW 01, Jebres, Solo. Dia menyebut Aldo sebagai remaja yang baik dan masih berusaha membantu ibunya meski belum memiliki pekerjaan tetap.

"Pesan saya yang penting satu, jaga salat dan berbakti kepada orang tua. Itu utama," katanya.

Dia berharap Aldo dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Namun, keluarga juga berusaha menerima apa pun yang menjadi kehendak Tuhan.

"Namanya musibah, cuman kita berdoa dari keluarga semoga keselamatan, dalam hal ini Aldo selamat. Seandainya meninggal, itu sudah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa," pungkasnya.

Sebelumnya dilansir NadiKabar.com, kapal Virgo Transport 8 yang mengangkut 243 orang terbalik dan tenggelam usai menghadapi cuaca buruk dalam perjalanan dari Surabaya ke Banjarmasin. Berdasarkan data dari Basarnas dan Kemenhub, ada 114 korban yang telah dievakuasi.

Dikutip dari situs resmi Kemenhub, Senin (14/9), data manifes menunjukkan kapal itu membawa total 243 orang yang terdiri dari 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, satu anak-anak, 126 sopir dan kernet beserta 89 unit muatan kendaraan.

Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menyebut ada 114 orang yang telah dievakuasi. Korban yang dievakuasi terdiri dari 108 orang selamat dan enam orang tewas.

"Total yang sudah ditemukan adalah 114 orang, dengan rincian 108 yang selamat dan enam yang meninggal dunia," kata Menhub Dudy dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.