"Dari situ sampai tahun 2024, tidak ada kabar sedikit pun. Surat atau apa nggak ada, kan dulu belum ada telepon. Kami menganggap, orang tua atau keluarga di sini tuh udah, ya udah meninggal lah atau apa, karena nggak ada kabar," ujar Lukas kepada NadiKabar, Rabu (9/9/2026) malam.
Titik terang baru muncul pada kurun 2024-2025. Sebuah panggilan telepon dari sesama pekerja asal Bekasi menjadi penyambung asa, memberikan kabar mengenai keberadaan Beti di Riyadh.
Secara fisik dan perlakuan harian, Beti mengaku tidak mendapatkan kekerasan fisik dari majikannya. Namun, persoalan pemenuhan hak pekerja dan kebebasan menjadi penderitaan tersendiri yang harus ia panggul puluhan tahun. Selama lebih dari dua dekade bekerja, hak atas gaji bulanan nyaris tak pernah ia nikmati secara utuh.
"Dulu pernah satu kali katanya dapat gaji satu bulan, tapi dipinjam lagi, diambil lagi sama majikannya. Ya sama aja nggak ada," tutur Lukas meratapi nasib adiknya.
Kini, majikan yang dulu mempekerjakan Betty telah meninggal dunia, dan tanggung jawab mempekerjakannya beralih ke anak sang majikan. Seiring usianya yang terus bertambah tua, desakan rindu dan keinginan Beti untuk kembali ke kampung halaman kian membuncah. Sayangnya, niat tersebut selalu bertepuk sebelah tangan.