NADIKABAR.COM — Penanaman dilakukan di Semarang, Kendal, Batang, Indramayu, Gresik, dan Bekasi. Selain rehabilitasi kawasan pesisir, program tersebut juga dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan dan masyarakat di sekitar kawasan.
Salah satu pengembangan dilakukan melalui Padi Biosalin yang dikerjakan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pemerintah daerah. Program ini memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif untuk ditanami padi yang dapat beradaptasi dengan kondisi salinitas tinggi.
Luas lahan Padi Biosalin kini mencapai 550 hektare. Program tersebut sebelumnya dimulai dari lahan seluas 5 hektare pada akhir 2024. Dari lahan tersebut, produktivitas yang dihasilkan mencapai 5-7 ton gabah kering per hektare setiap masa tanam.
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Pujiharini, mengatakan penanaman mangrove berperan dalam rehabilitasi ekosistem sekaligus memperkuat ketahanan kawasan pesisir menghadapi perubahan iklim.
"Kawasan pesisir memiliki tantangan yang semakin besar akibat perubahan lingkungan dan perubahan iklim. Upaya tersebut (penanaman mangrove) perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disinergikan dengan pengelolaan kawasan Hulu sampai Hilir khususnya di Daerah Aliran Sungai agar manfaat ekologis mangrove dapat dirasakan dalam jangka panjang," ujarnya.
Kepala DLH Kabupaten Batang, Rusmanto, menyebut pengelolaan dan pemulihan lingkungan pesisir membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar penanaman mangrove dapat terintegrasi dengan pengelolaan kawasan pesisir di tingkat daerah.
"Pengelolaan kawasan pesisir tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Perlu kolaborasi dengan berbagai pihak agar kawasan pesisir tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Sosialisasi dan pelibatan masyarakat pesisir juga pemahaman akan pentingnya tembok alami abrasi laut, adalah mitigasi awal agar mereka disadarkan akan bahaya hilangnya lahan mata pencaharian ke depan, jika penanaman mangrove tidak dilaksanakan," tuturnya.
Sementara itu, Division Head CSR PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, mengatakan program Tanam Pantau tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga mencakup ketahanan pangan, mitigasi bencana, teknologi tepat guna, dan pemberdayaan masyarakat.
"Bagi PGN, keberlanjutan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang terus memberikan manfaat," kata Krisdyan.
Pengembangan Padi Biosalin menjadi salah satu bagian dari pendekatan tersebut. Selain ketahanan pangan, program juga mencakup mitigasi bencana di wilayah pesisir Pantura serta penerapan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Krisdyan mengatakan keberlanjutan program tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, BRIN, dan masyarakat. Pemerintah daerah mendukung arah pembangunan dan pengelolaan lingkungan, BRIN melalui riset dan inovasi, sementara masyarakat berperan dalam menjaga serta memanfaatkan ekosistem secara berkelanjutan.
"Ke depan, kami ingin memastikan apa yang ditanam hari ini dapat tumbuh menjadi ekosistem yang memberikan manfaat nyata. Keberlanjutan program membutuhkan kerja bersama, pemantauan, edukasi, serta keterlibatan masyarakat secara konsisten," pungkasnya. (fdl/fdl)