NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia menjadi salah satu negara penyuplai terbesar batu bara di dunia.

Pada 2025, Indonesia menyumbang sekitar 540 juta ton batu bara atau setara 43% dari total perdagangan batu bara dunia yang mencapai 1,3 miliar ton.

"Konsumsi batu bara dunia itu 8,9 miliar ton per tahun. Batu bara yang diperjualbelikan itu 1,3 miliar ton. Di 2025, kontribusi Indonesia terhadap peredaran batu bara dunia itu mencapai 540 juta ton," ujar Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).

Bahlil menyampaikan bahwa kondisi tersebut telah menyebabkan harga batu bara pada tahun 2025 menjadi terendah. Akibatnya, pendapatan negara tidak maksimal.

"Apa yang terjadi? Harga batubara di 2025 pada harga yang paling rendah. Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jorjoran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah," terang Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Bahlil kemudian menaikkan harga batu bara acuan. Namun kebijakan ini tidak dipatuhi. Nah, kemudian dirinya mengambil kebijakan dengan melakukan pengendalian produksi melalui pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.

"540 juta itu sama dengan 43% suplai batubara dunia dari Indonesia, saya bilang kalau begitu kita jaga antara supply and demand, potong RKAB. Apa yang terjadi, Bapak Ibu semua? Hari ini harga batubara bisa mencapai US$ 154, untuk kalori 633. Ini strategi. Ini strategi, karena kita jaga supply and demand, pendapatan negara kita melonjak, produksi turun," terangnya.

"Jadi produksinya terkoreksi menurun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten, enggak jual murah barang kita," pungkasnya.