NADIKABAR.COM — Sebanyak 49.351 pelajar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat sudah memiliki rekening tabungan melalui program Simpanan Pelajar (SimPel) yang terus diperluas Pemerintah Kota Pontianak dengan mengintegrasikannya bersama bank sampah mini di sekolah.

"Melalui program ini, kita mengajak sekolah dan para guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar," kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat Sosialisasi Simpanan Pelajar dan Bank Sampah Mini di SD Negeri 15 Pontianak Selatan, Senin.

Ia mengatakan bahwa Pemkot Pontianak terus mendorong peningkatan jumlah tersebut dengan memperluas sosialisasi ke sekolah negeri, swasta, madrasah hingga pondok pesantren. Menurut dia, kebiasaan menabung perlu ditanamkan sejak usia sekolah karena dapat membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola keuangan.

"Melalui program tersebut, siswa juga diajak memahami pentingnya menggunakan uang sesuai kebutuhan dan mempersiapkan masa depan," kata dia.

Menurutnya, pengembangan SimPel turut diintegrasikan dengan bank sampah mini. Siswa dapat membawa sampah yang telah dipilah dari rumah untuk ditimbang dan dinilai berdasarkan jenisnya. Hasil penjualan sampah kemudian dimasukkan ke rekening tabungan masing-masing.

"Anak-anak bisa membawa sampah dari rumah, kemudian ditimbang, dinilai, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengatakan dari 141 sekolah yang mengikuti program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah telah memiliki bank sampah mini.

Ia menjelaskan, pengembangan program dilakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu memberikan edukasi kepada siswa mengenai jenis sampah dan cara memilahnya. Selanjutnya, sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella untuk membeli sampah yang dikumpulkan siswa.

"Anak-anak kita ajarkan memilah sampah dari rumah. Setelah dibawa ke sekolah dalam keadaan terpilah, sampah tersebut dibeli melalui Bank Sampah Rosella dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka," katanya.

Usmulyono menyebutkan, salah satu jenis sampah plastik memiliki nilai jual sekitar Rp4.000 per kilogram. Sampah yang terkumpul juga berpotensi diolah menjadi produk bermanfaat, seperti meja dan batako.

Menurut dia, pembiasaan memilah sampah sejak dini menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS).

DLH Kota Pontianak akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan agar bank sampah mini berkembang di lingkungan pendidikan. Upaya tersebut juga mendukung penguatan program Adiwiyata, yang didorong untuk diikuti seluruh sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di bawah kewenangan Pemkot Pontianak.

"Kita berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri, terbiasa memilah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi," kata dia.