Bisnis tersebut juga dibangun dengan melibatkan petani. Karena hasil kebun sendiri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku, Bananania bekerja sama dengan sejumlah petani dan menerapkan SOP serta quality control untuk menjaga kualitas. Bananania juga telah menerapkan standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP).
Dari sisi pasar, produk Bananania telah masuk ke lebih dari 600 outlet dan dipasarkan melalui kanal online maupun offline. Bananania juga telah melakukan ekspor ke Kanada, Malaysia, Filipina, Australia, dan Amerika Serikat, serta mempersiapkan ekspansi ke Korea Selatan.
Ke depan, Bananania membuka peluang melalui perluasan distribusi, ekspor, dan co-branding. Bananania juga mengembangkan konsep zero waste dengan memanfaatkan kulit pisang sebagai bahan baku enzim yang kemudian digunakan sebagai pupuk. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan nilai ekonomi lebih besar dari komoditas lokal.
Quinn of Spicy melihat budaya makan masyarakat Indonesia yang sulit dipisahkan dari sambal sebagai peluang bisnis. Produk ini memadukan cabai dengan andaliman, rempah khas Sumatera Utara, yang memberikan sensasi pedas dan aroma khas."Kami menggabungkannya dengan rempah khas, namanya andaliman. Menghasilkan rasa pedas dan aroma yang khas," ujar Owner Quinn of Spicy, Rudy Yanto.
Sejak berdiri pada 2020, Quinn of Spicy memperluas bisnis dari kanal digital ke modern trade. Produknya disebut telah terjual lebih dari 400 ribu unit di lokapasar dengan rating 4,5 dari lebih dari 30 ribu penilaian konsumen. Kapasitas produksi kini mencapai sekitar 20 ribu pieces per bulan dengan dukungan sekitar 25 pekerja lokal.
Selain memperluas distribusi ke jaringan modern trade di Sumatera, Quinn of Spicy juga memberdayakan tenaga kerja lokal, memberikan edukasi kepada UMKM, serta mengolah limbah produksi menjadi pupuk kompos.
Setelah membangun pasar domestik, Quinn of Spicy mulai membidik pasar internasional dengan mengikuti World Food Expo dan Food Hall di Singapura.
Granola Addict mengembangkan produk berbasis sereal seperti granola, muesli, premix, hingga biskuit. Bisnis yang dikembangkan Owner Granola Addict, Steven Kurniawan, tersebut awalnya bertumbuh melalui lokapasar sebelum memperluas penjualan ke pasar offline dan business-to-business (B2B), termasuk sektor perhotelan.Pandemi COVID-19 sempat menekan penjualan online. Kondisi tersebut mendorong Granola Addict mencari kanal pasar baru dengan masuk ke hotel-hotel. Strategi ini kemudian membuka peluang baru, terutama di Bali yang kini menjadi salah satu pasar utama perusahaan.
Steven menyebut masih terdapat ribuan hotel di Indonesia yang belum digarap. Karena itu, sektor perhotelan dinilai masih memberikan ruang ekspansi, dengan dukungan relasi bisnis dan jaringan vendor yang telah dibangun.