Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan layanan Pelindo selama lima tahun merger telah dirasakan perusahaan pelayaran di berbagai wilayah.

"Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo," tutur Carmelita.

Menurutnya, pembenahan layanan terminal peti kemas masih perlu dilanjutkan. Langkah tersebut penting untuk menciptakan sistem pelayanan logistik yang semakin terintegrasi di seluruh Indonesia.

"Sampai sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih terintegrasi di seluruh Indonesia," ungkap Carmelita.

Ia juga mengatakan peningkatan kualitas layanan terminal penting bagi perusahaan pelayaran karena berkaitan langsung dengan produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya menyangkut bongkar muat, tetapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal berada di pelabuhan.

"Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik," ujarnya.

Carmelita menilai kesiapan peralatan bongkar muat juga berpengaruh langsung terhadap produktivitas terminal. Hal ini dilakukan untuk mendukung kepastian jadwal pelayaran kapal.

"Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha," tuturnya.

INSA juga mendorong keberlanjutan standardisasi layanan di berbagai terminal. Menurut Carmelita, pola layanan yang semakin seragam dibutuhkan perusahaan pelayaran agar operasional kapal dapat direncanakan dengan lebih baik.

"Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian operasional kapal," jelasnya.

Di sisi lain, tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku cadang yang masih harus diimpor, turut terdampak.

"Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar," ujar Carmelita.

Dampak gejolak kurs mata uang asing dinilai mulai merembet ke sektor investasi industri pelayaran nasional. Menurutnya, tekanan tersebut tidak hanya membengkakkan pengeluaran rutin harian, tetapi juga memengaruhi kalkulasi rencana investasi perusahaan ke depan.

"Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak," jelas Carmelita.