Bukan hanya piramida menanti untuk ditemukan. "Menurut saya, kita sudah cukup banyak mengetahui hampir semua piramida di area bangsa Maya serta di Meksiko Mesoamerika," ujar Prof. Takeshi Inomata, arkeolog University of Arizona.
Di 2020, Inomata menemukan Aguada Fenix menggunakan teknologi Lidar. Tempat ini diyakini sebagai situs upacara Maya tertua dan terbesar sepanjang hampir 1,4 km.
Jadi, salah satu misteri tersisa di Amerika Selatan adalah, apa lagi yang menanti di sana. Studi memperkirakan jumlah bangunan yang belum ditemukan bisa mencapai 23.000.
Ini adalah mbah-nya misteri piramida. Jika sebuah batu seberat 100 ton atau lebih, bukankah pasti melibatkan alien atau peradaban yang hilang untuk memindahkannya? Kemungkinan besar tidak. Faktanya, masyarakat kuno sering kali jauh lebih cakap dari yang kita kira.
Arkeolog mengumpulkan banyak sekali bukti mengenai teknik penambangan, tambang tali, tenaga kerja terorganisir, jalur air, dan tanjakan landai. Situs di mana Lehner bekerja sejak 1980-an dikenal sebagai 'Kota yang Hilang', kini diyakini tempat tinggal sekitar 20.000 pekerja pembangun piramida.
Bahkan ada papirus bertajuk Diary of Merer, yang ditemukan tahun 2013. Papirus tersebut merupakan buku catatan berusia 4.500 tahun tentang sekelompok pekerja yang mengangkut batu kapur melintasi serangkaian kanal pada masa Khufu.
Meski begitu, pertanyaan tetap ada. Tidak ada kesepakatan umum tentang sistem tanjakan yang digunakan di Giza. Proses memindahkan balok-balok terberat juga masih sulit direkonstruksi, tapi sebagian besar ahli Mesir Kuno meyakini ada peran jalan landai di sana. "Bagaimana persisnya mereka berinovasi, kami tidak yakin," cetus Lehner.