Dalam Piramida Agung, terdapat dua poros cerobong sempit yang membentang dari ruangan yang disebut Kamar Ratu, saluran mungil yang lebarnya hampir tidak cukup untuk dimasuki robot modern. Tujuannya tetap teka-teki.

Kebanyakan akademisi meragukan cerobong itu merupakan sistem ventilasi, terlepas dari sebutan populernya sebagai saluran udara. "Saya rasa orang Mesir kuno tidak peduli soal ketersediaan udara, ini bukan penilaian risiko keselamatan dan kesehatan," jelas Price.

Pakar lebih sering menafsirkan cerobong tersebut sebagai lorong simbolis terkait kepercayaan Mesir mengenai kehidupan setelah kematian dan perjalanan raja menuju bintang-bintang. Mungkin cerobong tersebut diarahkan menuju bintang atau konstelasi penting.

Sudan menyimpan lebih banyak struktur kuno ini dibandingkan Mesir. Sebagian besar di antaranya berasal dari Kerajaan Kush kuno, yang pernah berjaya di Nubia, selatan Mesir. Mulai sekitar abad kedelapan SM, penguasa Kushite mengadopsi dan mengadaptasi tradisi Mesir, termasuk pembangunan piramida.

Selama berabad-abad, mereka mendirikan ratusan piramida di kompleks permakaman kerajaan seperti Nuri dan MeroΓ«. Tentu ini memunculkan pertanyaan, untuk apa membangun begitu banyak piramida? Sebagian dari jawabannya terletak pada soal waktu.

"Mereka membangun piramida ini lebih lama daripada bangsa Mesir kuno. Meroe itu ibarat peradaban saingan Kekaisaran Romawi, di dua abad terakhir SM, serta dua abad pertama Masehi. Itulah mengapa jumlah piramidanya lebih banyak," sebut Price.

Piramida-piramida tersebut juga lebih kecil dari monumen raksasa Giza, sehingga lebih mudah dibangun dalam jumlah banyak. Dipercaya piramida serupa dahulunya pernah umum ada di Mesir, namun tidak bertahan dari penjarah atau waktu. Piramida-piramida di Sudan sebagian aman dan bertahan karena letaknya lebih terisolasi.