NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas mencatatkan luasan area yang berhasil dipadamkan seluas 502 hektare lebih dari total target penanganan seluas 983 hektare.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa dari total target tersebut, sisa lahan yang belum dipadamkan tercatat seluas 481 hektar.
"Berdasarkan peta sebarannya, wilayah Kalimantan Tengah mencatatkan angka lahan yang belum dipadamkan paling tinggi, yaitu seluas 321 hektare lebih, diikuti oleh Provinsi Sumatera Selatan sebesar 84 hektare lebih," kata dia.
Dia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadikan penanganan di Sumsel dan Kalteng yang diutamakan, kemudian disusul oleh upaya penanganan di provinsi lainnya, seperti Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.
Enam provinsi tersebut masuk skala prioritas penanganan karhutla, karena berdasarkan tingginya luas lahan gambut yang kritis, kerawanan titik panas, serta risiko cuaca ekstrem.
Selain enam provinsi prioritas, BNPB mencatat penanganan karhutla di luar wilayah tersebut mencakup area seluas 1.044 hektare lebih yang tersebar mulai dari Kalimantan Timur hingga Maluku Utara.
Dari jumlah tersebut, seluas 44 hektare telah berhasil dipadamkan, sehingga perkiraan luas lahan yang belum terpadamkan di luar enam provinsi prioritas mencapai 1.000 hektare.
"Operasi pemadaman di lapangan dijalankan melalui dua pola utama, yakni Satgas Darat dan Satgas Udara," kata dia.
Menurut dia, Satgas Darat mengerahkan total 71.878 personel di enam provinsi prioritas, termasuk penambahan sekitar 11.000 lebih personel yang baru disebarkan terutama di Kalimantan Tengah dengan total 16.387 personel.
Sementara itu, wilayah lainnya turut disiagakan personel gabungan yang mencakup 14.500 orang di Kalimantan Barat, 12.285 orang di Sumatera Selatan, 14.837 orang di Riau, 7.900 orang di Kalimantan Selatan, serta 5.984 orang di Jambi.
Untuk mendukung penanganan dari udara, Satgas Udara menambah jumlah armada helikopter water bombing, dan patroli dari 49 unit pada hari sebelumnya menjadi 51 unit.
Penambahan armada utama udara tersebut berasal dari pihak perkebunan hutan tanaman industri (HTI) sebanyak satu unit, serta tambahan satu unit dari TNI, sehingga menjadi 9 unit, yang difungsikan untuk operasi pengeboman air, patroli, maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).