NADIKABAR.COM — Karakter anak saat masa tumbuh kembang sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Kebiasaan tertentu orang tua, disebut bisa memengaruhi anak membentuk mental yang kuat.
Selama ini, banyak orang tua cenderung langsung membantu anaknya saat mereka kesulitan. Menurut psikolog klinis asal Amerika Serikat, Dr Lisa Damour, anak-anak harus dibiarkan belajar melewati kesulitan.
Alih-alih dibantu, orang tua hanya perlu mengawasi dan mendampingi. Kemudian, ajak anak untuk berbicara mengenai kesulitannya.
"Anak-anak yang secara teratur menghadapi tantangan yang sesuai dengan usia mereka akan membangun regulasi emosi yang lebih kuat dari waktu ke waktu," katanya, dikutip dari CNBC.
Dr Damour menekankan bahwa orang tua tidak perlu mencontohkan kesempurnaan kepada anak ketika mereka sedang berproses. Orang tua perlu memvalidasi kesulitan, kesalahan, dan perasaan anak, serta mengatakan bahwa mereka akan didukung oleh ayah atau ibunya.
Berikut ini kebiasaan-kebiasaan orang tua yang bisa membentuk mental kuat pada anak.
Saat anak sedang dipengaruhi emosional yang labil, orang tua tidak boleh terbawa emosi. Pastikan orang tua memiliki cara untuk menenangkan diri sebelum merespons anak.
Saat orang tua tenang, mereka akan bisa menenangkan anaknya. Bicarakan dengan anak bahwa kita memahami perasaan mereka.
"Ketenangan Anda akan membantu menenangkan mereka," ujar Tovah P Klein , PhD, profesor psikologi di Barnard College, New York City, AS.
Anak-anak yang masih kecil terkadang cemas setiap menghadapi situasi baru. Saat kondisi ini terjadi, orang tua perlu meyakinkan anak bahwa kita ada untuk mereka.
Dukungan ini akan membantu anak belajar mengatur diri sendiri seiring pertumbuhannya. Seiring waktu, anak bukan akan bergantung pada orang tuanya, melainkan bisa mengatasi dampak negatif dari kecemasa atau stres, terutama saat dewasa.
"Ini adalah cara untuk melindungi mereka dari dampak negatif jangka panjang akibat stres, trauma, atau berbagai tantangan hidup. Dengan kata lain, ini adalah cara untuk membuat mereka lebih tangguh," ungkap Klein.
Orang tua yang baik adalah yang mengatakan ke anaknya bahwa melakukan kesalahan itu tidak apa-apa. Ini akan membangun kepercayaan pada anak untuk tidak takut pada kegagalan.
Di sisi lain, orang tua perlu membiasakan diri mengajarkan anak meminta maaf saat kesalahan terjadi kepada orang atau pihak lain. Kemudian memperbaiki keadaan dengan bersikap jujur.
Menurut Klein, cara ini akan melatih anak bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan dan kerjakan. Termasuk bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain nantinya.
Klein menekankan bahwa anak-anak merupakan pencontoh ulung. Mereka melihat, merasakan, dan menyerap tindakan orang tuanya.
Maka itu, orang tua perlu memberikan contoh perilaku yang baik, penuh kasih sayang, dan terbuka untuk belajar. Jangan sampai orang tua hanya mengomeli anak tanpa memberi contoh.
"Bersikap baik secara konsisten akan memberikan dampak yang lebih besar," ujar Klein.
Anak-anak masih butuh kata-kata kepercayaan dari orang tuanya. Saat anak ragu atau berpikir akan kesulitan menghadapi sesuatu, orang tua wajib memberi tahu bahwa mereka percaya.
Kepercayaan diri yang tumbuh dan terbentuk pada anak menjadi aspek penting dari ketangguhan mental. Seiring waktu, ingatkan anak untuk percaya pada kemampuannya apa pun itu hasilnya.
Perasaan negatif seperti marah, takut, sedih, dan cemas adalah hal yang wajar. Jangan sampai orang tua mengomeli anak yang sedang mengekspresikan perasaan negatif lalu melarangnya.
Atas perasaan negatif yang muncul, anak perlu untuk belajar mengatur emosi. Pengaturan emosi ini adalah kunci membangun ketahanan mental.
Saat anak menghadapi perasaan negatif, bantu dan dukung kesulitan mereka. Beri pengertian ke anak bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang normal. Sebagai orang tua, katakan juga bahwa kita akan tetap mendukung apa pun yang terjadi.
"Dengan begitu, mereka dapat belajar mengalami berbagai emosi, memprosesnya, dan akhirnya melangkah maju," tutur Klein.