Namun, meski ada puluhan ribu pegawai memenuhi syarat, diperkirakan hanya sebagian kecil mengambilnya. Menurut New York Times, Microsoft memberikan tawaran ini dengan kesadaran bahwa di industri mereka, biasanya hanya sekitar 3 hingga 5 persen pekerja yang menerimanya.

Penawaran juga hanya berlaku untuk tim tertentu, dan menurut Bloomberg, tidak mencakup karyawan yang bekerja di data centers atau divisi penjualan dan pemasaran.

Meski perubahan ini mungkin membuat beberapa karyawan dihadapkan pada pilihan sulit, fakta bahwa keputusan akhir ada di tangan mereka memberi rasa memegang kendali. Pengacara ketenagakerjaan Peter Rahbar menyebut efek pengunduran diri sukarela tak terlalu menghancurkan semangat dibanding PHK massal.

"Orang-orang merasa lebih baik jika bisa keluar atas keputusan mereka sendiri. Jika terkena PHK, mereka jelas tidak akan merasa demikian," cetusnya.