Pada tahap awal, inisiatif ini sempat tersendat karena beberapa pohon yang dipilih dengan alasan pertumbuhannya yang cepat ternyata tidak cocok dengan lingkungan dan akhirnya mati.
Namun ilmuwan China terus berjuang. Melalui perencanaan dan ketekunan, perisai hijau ini tumbuh alih-alih mati, nasib yang sering menimpa inisiatif tembok hijau lainnya. Menurut artikel Nature, tutupan hutan di wilayah yang dilalui tembok ini melonjak dari 5 persen tahun 1978 jadi 14 persen di 2023. Hal ini membantu mengurangi badai debu dan meningkatkan kualitas udara di kota-kota termasuk Beijing.
Akan tetapi, Tembok Hijau Raksasa pada awalnya tidak dimaksudkan sebagai mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, Luo dan rekan-rekannya penasaran untuk melihat bagaimana kinerja hutan tanam tersebut dalam hal ini.
Untuk melakukannya, mereka menggunakan data satelit guna melacak kepadatan kanopi Tembok Hijau tersebut, pengukuran yang dikenal sebagai indeks luas daun, lalu membandingkannya dengan hutan alami di China. Hal yang mengejutkan, luas daun di hutan buatan meningkat 66 persen lebih cepat dibanding rekan alaminya.