Ghibah atau menggunjing merupakan perbuatan tercela yang dilarang keras oleh Islam. Kaum perempuan yang gemar melakukan ghibah mendapat ancaman siksa neraka yang sangat pedih. Ancaman ini tertuang dalam Al-Qur'an Surah Al-Mudatsir ayat 45, yang mengisahkan penghuni neraka. Saat mereka ditanya penyebab mereka masuk neraka, mereka menjawab:

"وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَۙ

Artinya: "Bahkan, kami selalu berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama para pembincang."

Allah SWT telah mengaruniai manusia dengan akal dan budi pekerti agar memiliki rasa malu dan menjadi pembeda di tim redaksi makhluk ciptaan-Nya yang lain. Hilangnya rasa malu terjadi atas bisikan setan yang menyusup melalui hati manusia.

Mengenai hal ini, Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya untuk memiliki rasa malu, "Sesungguhnya di tim redaksi yang dipahami manusia dari ucapan para nabi terdahulu adalah, 'Jika tidak malu lagi, perbuatlah yang engkau suka'." (HR Bukhari)

Hadits tersebut menjadi peringatan berupa sindiran dan celaan bagi manusia yang sudah tidak memiliki rasa malu, baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesamanya.

Sebagian dari umat Islam mungkin memandang perilaku malas-malasan sebagai hal yang biasa. Namun, sikap malas merupakan bentuk mengabaikan dan menyepelekan amanah yang diberikan dan merupakan akhlak yang tercela.

Bahkan, Rasulullah SAW berdoa agar dihindarkan dari rasa malas dengan bacaan Allahumma inni a'uudzubika minal ajzi, wal jubni, wal harami, wal bakhli yang artinya "Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tidak berdaya, malas, pengecut, pikun, dan pelit." (HR Muttafaq Alaih)