6. Tidak membandingkan anak dengan orang lain
Membandingkan anak dengan saudara, teman atau anak lain dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Setiap anak memiliki kemampuan, minat dan perkembangan yang berbeda.
Alih-alih membandingkan, orangtua dapat membantu anak mengenali kelebihan dan kemajuan dirinya sendiri. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi anak untuk berkembang sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.
7. Mengoreksi perilaku tanpa merendahkan
Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar anak. Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua tetap dapat memberikan batasan dan menjelaskan konsekuensi tanpa memberikan label negatif kepada dirinya.
Fokus pada perilaku, bukan menyerang karakter anak. Misalnya, daripada mengatakan anak βnakalβ, orangtua dapat menjelaskan perilaku apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara melakukannya. Cara tersebut membantu anak belajar dari kesalahan tanpa merasa dipermalukan.
Pada akhirnya, membuat anak merasa dihargai tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Mendengarkan cerita mereka, menghargai pendapat, memberikan apresiasi, menyediakan waktu bersama dan merespons kesalahan dengan tenang merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memperkuat hubungan orangtua dan anak.
Pengasuhan positif juga bukan berarti orangtua membiarkan semua perilaku anak. Batasan dan aturan tetap diperlukan, tetapi dapat diberikan dengan cara yang jelas, konsisten dan tanpa kekerasan atau rasa takut. Pendekatan tersebut membantu menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat tumbuh dengan rasa percaya diri dan merasa dihargai.