NADIKABAR.COM β€” Hubungan yang dekat antara orangtua dan anak tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Cara orangtua mendengarkan, merespons perasaan, memberikan perhatian hingga menghargai pendapat anak juga berperan dalam membentuk rasa aman dan kepercayaan diri.

Pola pengasuhan yang positif menempatkan anak sebagai individu yang perlu didengar, dipahami dan dihargai. Pendekatan ini tidak berarti orangtua harus selalu memenuhi keinginan anak, tetapi tetap memberikan batasan dengan cara yang tenang dan menghormati anak.

Lantas, kebiasaan apa saja yang dapat membuat anak merasa dihargai oleh orangtuanya?

1. Mendengarkan tanpa langsung menghakimi

Ketika anak bercerita, orangtua dapat memberikan perhatian penuh dan tidak buru-buru menyalahkan atau memberikan nasihat. Mendengarkan secara aktif membuat anak merasa bahwa cerita dan perasaannya dianggap penting.

Kontak mata, bahasa tubuh yang menunjukkan perhatian dan pertanyaan terbuka dapat membantu membangun komunikasi yang lebih nyaman. Kebiasaan tersebut juga dapat membuat anak lebih mudah menyampaikan masalah yang sedang dihadapi.

Anak memiliki pemikiran dan pandangan sendiri yang berkembang seiring bertambahnya usia. Orangtua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat, meskipun keputusan akhir dalam situasi tertentu tetap berada di tangan orangtua.

Memberikan ruang untuk berpendapat membantu anak memahami bahwa suaranya memiliki nilai. Hal ini juga dapat mendorong kemampuan anak dalam berpikir, berkomunikasi dan mengambil keputusan.

3. Memberikan apresiasi secara spesifik

Pujian tidak harus selalu diberikan ketika anak memperoleh prestasi. Orangtua dapat mengapresiasi usaha, keberanian, tanggung jawab atau perilaku positif yang dilakukan anak.

Daripada hanya mengatakan β€œanak pintar”, orangtua dapat memberikan apresiasi yang lebih spesifik, misalnya karena anak sudah berusaha menyelesaikan tugas atau berani mengakui kesalahan. Pujian yang spesifik dapat membantu anak memahami perilaku positif yang telah dilakukannya.

4. Meluangkan waktu khusus bersama anak

Kesibukan orangtua terkadang membuat waktu bersama anak menjadi terbatas. Padahal, perhatian tidak selalu membutuhkan kegiatan yang mahal atau waktu yang panjang.

Orangtua dapat menyediakan waktu khusus untuk berbicara, bermain, makan bersama atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai anak. UNICEF menyarankan waktu berdua yang fokus tanpa gangguan seperti televisi atau ponsel sebagai salah satu cara membangun hubungan positif dengan anak.

Ketika anak sedih, kecewa atau marah, respons orangtua dapat memengaruhi cara anak memahami emosinya sendiri. Mengatakan bahwa anak tidak boleh merasa sedih atau marah dapat membuatnya kesulitan mengungkapkan perasaan.

Orangtua dapat membantu anak mengenali emosinya terlebih dahulu, kemudian mengajarkan cara mengelolanya dengan aman. Anak tetap perlu memahami batasan perilaku, tetapi perasaannya tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang salah.

6. Tidak membandingkan anak dengan orang lain

Membandingkan anak dengan saudara, teman atau anak lain dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Setiap anak memiliki kemampuan, minat dan perkembangan yang berbeda.

Alih-alih membandingkan, orangtua dapat membantu anak mengenali kelebihan dan kemajuan dirinya sendiri. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi anak untuk berkembang sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.

7. Mengoreksi perilaku tanpa merendahkan

Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar anak. Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua tetap dapat memberikan batasan dan menjelaskan konsekuensi tanpa memberikan label negatif kepada dirinya.

Fokus pada perilaku, bukan menyerang karakter anak. Misalnya, daripada mengatakan anak β€œnakal”, orangtua dapat menjelaskan perilaku apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara melakukannya. Cara tersebut membantu anak belajar dari kesalahan tanpa merasa dipermalukan.

Pada akhirnya, membuat anak merasa dihargai tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Mendengarkan cerita mereka, menghargai pendapat, memberikan apresiasi, menyediakan waktu bersama dan merespons kesalahan dengan tenang merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memperkuat hubungan orangtua dan anak.

Pengasuhan positif juga bukan berarti orangtua membiarkan semua perilaku anak. Batasan dan aturan tetap diperlukan, tetapi dapat diberikan dengan cara yang jelas, konsisten dan tanpa kekerasan atau rasa takut. Pendekatan tersebut membantu menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat tumbuh dengan rasa percaya diri dan merasa dihargai.