Dalam abstrak penelitiannya, tim menyebut HCN sebagai penanda sensitif untuk proses pembakaran membara (a sensitive tracer of smouldering combustion). Gas ini juga dapat dilepaskan bersama karbon monoksida (CO) ketika gambut terbakar.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kebakaran gambut Indonesia pada 2015 menghasilkan jumlah HCN dan CO di atmosfer yang sangat tinggi dibandingkan pengamatan satelit pada periode sebelumnya. Kondisi itu berkaitan dengan kelembapan tanah yang sangat rendah, turunnya muka air tanah, serta pembakaran gambut yang lebih dalam.
Sebaliknya, emisi pada 2019 dan 2023 jauh lebih rendah meskipun kedua periode tersebut juga berlangsung saat El Niño. Menurut para peneliti, perbedaan ini menunjukkan bahwa kekuatan El Niño saja tidak cukup untuk menjelaskan besarnya emisi. Kondisi air di dalam gambut dan kedalaman pembakaran turut menentukan banyaknya gas yang dilepaskan.