Temuan ini penting karena penghitungan emisi kebakaran yang hanya mengandalkan luas area terbakar berisiko tidak menggambarkan seluruh proses pembakaran gambut. Api yang merambat di bawah permukaan dapat membakar lapisan organik tanah dengan karakteristik berbeda dari kebakaran vegetasi biasa.

Meski demikian, pengamatan HCN dari satelit tidak secara langsung menunjukkan seberapa besar paparan yang diterima warga di permukaan atau membuktikan bahwa konsentrasi gas tersebut telah mencapai tingkat berbahaya di suatu permukiman. Penelitian ini berfokus pada emisi dan kondisi atmosfer dalam skala regional.

Studi tersebut menegaskan pentingnya memantau kelembapan tanah dan muka air gambut, selain mengamati titik panas dan luas area terbakar. Dengan memahami kondisi yang memicu pembakaran gambut lebih dalam, ilmuwan dapat memperbaiki perkiraan emisi dan membantu menyusun strategi pencegahan karhutla.