NADIKABAR.COM — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya terdiri dari partikel halus yang mencemari udara. Kebakaran gambut juga dapat melepaskan hidrogen sianida (HCN), gas beracun yang keberadaannya dapat membantu ilmuwan melacak pembakaran gambut yang membara di bawah permukaan tanah.

Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Atmospheric Chemistry and Physics pada 14 September 2026. Tim peneliti menganalisis emisi kebakaran gambut Indonesia selama fenomena El Nino pada 2015, 2019, dan 2023 menggunakan pengamatan satelit, pengukuran atmosfer dari darat, serta pemodelan.

Dalam penelitian ini, HCN menjadi perhatian khusus karena dapat berfungsi sebagai penanda pembakaran membara atau smouldering combustion. Berbeda dengan api yang berkobar di permukaan, pembakaran jenis ini dapat berlangsung di lapisan gambut dan sulit dipadamkan.

Dalam abstrak penelitiannya, tim menyebut HCN sebagai penanda sensitif untuk proses pembakaran membara (a sensitive tracer of smouldering combustion). Gas ini juga dapat dilepaskan bersama karbon monoksida (CO) ketika gambut terbakar.

Penelitian tersebut menemukan bahwa kebakaran gambut Indonesia pada 2015 menghasilkan jumlah HCN dan CO di atmosfer yang sangat tinggi dibandingkan pengamatan satelit pada periode sebelumnya. Kondisi itu berkaitan dengan kelembapan tanah yang sangat rendah, turunnya muka air tanah, serta pembakaran gambut yang lebih dalam.

Sebaliknya, emisi pada 2019 dan 2023 jauh lebih rendah meskipun kedua periode tersebut juga berlangsung saat El Niño. Menurut para peneliti, perbedaan ini menunjukkan bahwa kekuatan El Niño saja tidak cukup untuk menjelaskan besarnya emisi. Kondisi air di dalam gambut dan kedalaman pembakaran turut menentukan banyaknya gas yang dilepaskan.

Temuan ini penting karena penghitungan emisi kebakaran yang hanya mengandalkan luas area terbakar berisiko tidak menggambarkan seluruh proses pembakaran gambut. Api yang merambat di bawah permukaan dapat membakar lapisan organik tanah dengan karakteristik berbeda dari kebakaran vegetasi biasa.

Meski demikian, pengamatan HCN dari satelit tidak secara langsung menunjukkan seberapa besar paparan yang diterima warga di permukaan atau membuktikan bahwa konsentrasi gas tersebut telah mencapai tingkat berbahaya di suatu permukiman. Penelitian ini berfokus pada emisi dan kondisi atmosfer dalam skala regional.

Studi tersebut menegaskan pentingnya memantau kelembapan tanah dan muka air gambut, selain mengamati titik panas dan luas area terbakar. Dengan memahami kondisi yang memicu pembakaran gambut lebih dalam, ilmuwan dapat memperbaiki perkiraan emisi dan membantu menyusun strategi pencegahan karhutla.