NADIKABAR.COM — lmuwan dari European Forest Institute Krystof Obidzinski menilai kebakaran hutan dan lahan jadi salah satu tantangan Indonesia dalam upaya mencapai target iklim, termasuk pencapaian target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 dan pengembangan pemanfaatan hutan untuk beragam kepentingan atau multi-use forestry.

Menurut Krystof, kebakaran hutan tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga berdampak pada produksi, ketenagakerjaan, perdagangan, kepercayaan, dan dukungan lembaga keuangan.

"Oleh karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan, pembagian tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan anggaran yang memadai untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran," kata Krystof, melansir laman resmi BRIN, Rabu (28/10).

FOLU Net Sink 2030 merupakan target yang ingin dicapai lewat aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan lahan dengan kondisi di mana tingkat serapan sudah lebih tinggi dari tingkat emisi pada 2030.

Indonesia's FOLU Net Sink 2030 diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021.

Program ini menggunakan empat strategi utama, meliputi menghindari deforestasi, konservasi dan pengelolaan hutan lestari, perlindungan dan restorasi lahan gambut, serta peningkatan serapan karbon.