Menurut dia, asap dan partikulat halus yang dihasilkan kebakaran dapat menyebar ke wilayah lain sehingga dampaknya melampaui kawasan yang terbakar dan memengaruhi udara yang dihirup masyarakat.
Ia mengintegrasikan sejumlah sumber data, meliputi aktivitas kebakaran yang diamati melalui satelit, estimasi konsentrasi partikulat halus PM2.5, distribusi penduduk, serta data mortalitas dasar. Ia menjelaskan, pendekatan ini digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara aktivitas kebakaran, kualitas udara, dan potensi dampaknya terhadap penduduk di Kalimantan.
Ia menegaskan, hasil kajian perlu dipahami sesuai dengan batasan metodologinya. Estimasi berbasis pemodelan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggambarkan seluruh penderitaan masyarakat ataupun membuktikan bahwa setiap kematian disebabkan oleh kebakaran hutan.
Oleh sebab itu, hasil pemodelan tidak bisa disamakan dengan angka kematian aktual yang seluruhnya telah terverifikasi akibat kebakaran. Kendati begitu, pendekatan ini dapat membantu mengidentifikasi dimensi dampak kebakaran hutan yang kerap luput dari perhatian.
"Informasi mengenai potensi dampak terhadap kesehatan masyarakat dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memperkuat pemantauan kualitas udara, penyampaian peringatan dini, perlindungan kelompok rentan, dan kesiapan pelayanan kesehatan ketika kebenaran terjadi," ujar Marcellinus.