Ilustrasi. Ilmuwan menemukan tiga lubang hitam raksasa di galaksi J0148-4214, memberikan wawasan tentang pertumbuhan lubang hitam di alam semesta awal pasca-Big Bang. (Foto: iStockphoto/Cappan)

Para peniliti mengidentifikasi ketiga lubang hitam tersebut dengan memeriksa pola khas pada cahaya yang dipancarkan oleh gas hidrogen. Di dekat lubang hitam, gaya gravitasi yang kuat menyebabkan gas bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Pergerakan ini meninggalkan jejak yang dapat dikenali dalam spektrum cahaya, sehingga para astronom dapat mendeteksi aktivitas lubang hitam bahkan ketika objek itu sendiri tidak dapat dilihat secara langsung.

Di pusat J0148-4214, para ilmuwan menemukan pola emisi hidrogen yang sangat rumit. Penjelasan yang paling masuk akal adalah dua lubang hitam yang letaknya berdekatan, bukan berasal dari satu sumber.

Untuk membedakan keduanya, para ilmuwan menggunakan teknik pengukuran presisi yang disebut spektro-astrometri.

Dengan melacak perubahan halus pada posisi pancaran spektrum di seluruh area galaksi, mereka mampu mengidentifikasi lokasi kedua lubang hitam di pusat tersebut, meskipun teleskop tidak dapat melihatnya secara jelas sebagai dua titik cahaya yang tepisah.

Melalui pengamatan ini, mereka juga mengungkap keberadaan lubang hitam aktif ketiga di wilayah luar galaksi tersebut.

Penelitian ini turut menemukan bahwa ketiga lubang hitam ini memiliki massa yang berbeda. Menurut perhitungan para peneliti, lubang hitam pertama memiliki massa sekitar 80 juta, yang kedua sekitar 600.000 dan yang ketiga sekitar 2 juta kali lipat massa matahari.

Menariknya, lubang hitam yang paling besar bukanlah yang melahap materi dengan rakus. Lubang dengan massa 600.000 matahari, justru mengumpulkan materi dengan tingkat kelajuan yang lebih tinggi.

Faktanya, perkiraan kecepatannya dalam memakan materi melampaui batas maksimum yang diprediksi oleh teori-teori dasar (batas luminositas Eddington).

Para peneliti memperkirakan pertumbuhan yang luar biasa cepat ini mungkin menawarkan petunjuk terkait bagaimana beberapa lubang hitam menjadi luar biasa besar dalam waktu yang relatif singkat di masa awal alam semesta.

"Data dari teleskop JWST memungkinkan kami tidak hanya mengidentifikasi ketiga lubang hitam, tetapi juga memperkirakan massanya, kecepatan hisapnya, dan massa bintang di galaksi tersebut," kata Giovanni Mazzolari selaku penulis kedua dari studi tersebut.