Pada sebagian perairan selatan, kecepatan angin lapisan 925 hPa mencapai sekitar 6-10m/dt, sementara di wilayah daratan relatif lebih lemah dengan pola aliran yang mengalami pembelokan. Pola ini menunjukkan kemungkinan adanya zona pertemuan aliran dan geser angin atau wind shear.

Jika kondisi tersebut disertai konvergensi massa udara, udara hangat dan lembap dapat terdorong naik ke atmosfer. Udara yang naik kemudian mengalami kondensasi dan melepaskan panas laten, sehingga dapat mendukung penguatan arus naik atau updraft.

Dalam kondisi tertentu, pusaran kecil yang terbentuk di sepanjang batas pertemuan aliran udara dapat mengalami peregangan oleh arus naik yang kuat. Proses bernama vortex stretching ini dapat meningkatkan rotasi pusarn dan menjadi salah satu mekanisme pembentukan puting beliung, termasuk jenis tornado non-supercell.

Selain itu, aliran udara dingin yang menyebar keluar dari badai atau gust front dapat memicu pusaran lokal ketika berinteraksi dengan udara di sekitarnya. Topografi Bandung Raya yang kompleks juga berpotensi memodifikasi dinamika atmosfer tersebut.

Ahli meteorologi menjelaskan penyebab puting beliung yang melanda Padalarang, Jawa Barat, dan dampaknya terhadap ratusan rumah. (Foto: iStockphoto/koto_feja)

Meski demikian, mekanisme itu perlu dipahami sebagai penjelasan meteorologis mengenai proses yang memungkinkan terbentuknya puting beliun.

"Arus keluar dingin dari badai atau gust front juga dapat membangkitkan pusaran lokal melalui interaksinya dengan udara lingkungan. Kondisi topografi Bandung Raya yang kompleks berpotensi memodifikasi proses tersebut," ungkap Deni.

Lantas, seberapa kencang puting beliung yang terjadi di Padalarang?

Data angin ECMWF mengungkap kecepatan angin dengan angka 6-10 m/dt merupakan angin lingkungan, bukan kecepatan pusaran di permukaan. Menurut Deni, angin 100-160 km/jam berpotensi merusak atap, pohon, dan bangunan rentan.

Namun, kisaran tersebut bukan hasil pengukuran kecepatan angin puting beliung di Padalarang.