Untuk mengetahui intensitas sebenarnya, Deni mengatakan perlu dilakukan verifikasi melalui survei kerusakan dan pengamatan lapangan. Oleh karena itu, jumlah bangunan yang rusak tidak dapat digunakan sendirian untuk menetapkan kecepatan angin saat kejadian.

Deni juga mengingatkan bahwa pengaruh fenomena iklim global tidak selalu sejalan dengan kondisi cuaca harian. Meskipun, El Nino cenderung menekan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, kondisi tersebut tidak otomatis menghilangkan potensi terjadinya badai konvektif.

"Kejadian ini juga menegaskan bahwa pengaruh fenomena iklim global tidak selalu sejalan dengan kondisi cuaca harian. Sekalipun El Niño cenderung menekan curah hujan di sebagian Indonesia, ketersediaan kelembapan lokal, pemanasan permukaan, dan dinamika angin tetap dapat menghasilkan badai konvektif kuat," kata Deni.

Menurutnya, kondisi ini perlu menjadi perhatian masyarakat saat menjelang musim hujan, terutama di kawasan dengan topografi kompleks seperti Bandung Raya.

"Ke depan, penguatan peringatan dini membutuhkan integrasi citra satelit, radar cuaca, pengamatan permukaan, dan model cuaca resolusi tinggi. Masyarakat juga perlu segera mencari perlindungan ketika pertumbuhan awan konvektif disertai hujan lebat, petir, dan perubahan angin mendadak," jelas Deni.

Sebelumnya, angin puting beliung melanda tiga desa di kecamatan Padalarang, Bandung pada Senin (26/10). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, melaporkan sebanyak 520 rumah warga mengalami kerusakan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung Barat, Yoga Ali Imbran, menyebutkan ratusan rumah yang terdampak tersebar di Desa Padalarang sebanyak 398 unit, Desa Jayamekar 95 unit, dan Desa Kertajaya sebanyak 27 unit.

Berdasarkan tingkat kerusakannya, di Desa Padalarang terdapat 139 rumah rusak ringan, 161 rumah rusak sedang, dan 98 rumah rusak berat. Sementara itu, Desa Jayamekar mencatat 71 rumah rusak ringan dan 24 rumah rusak berat. Adapun di Desa Kertajaya, kerusakan meliputi 14 rumah rusak berat, empat rumah rusak sedang, serta sembilan rumah rusak ringan.

Selain permukiman warga, bencana tersebut turut mengakibatkan kerusakan pada sembilan fasilitas umum. Sebanyak tujuh bangunan berada di Desa Padalarang, sedangkan dua bangunan lainnya terletak di Desa Kertajaya.

Sejumlah fasilitas publik yang terdampak di antaranya masjid, madrasah, posyandu, kantor ketahanan pangan, serta bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).