NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau perlintasan sebidang yang ada di kawasan Bulak Kapal, Kota Bekasi, untuk memastikan rencana pembangunan flyover demi mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas dan mengurai kemacetan parah.

AHY menjelaskan dorongan utama pembangunan infrastruktur ini berkaitan dengan faktor keselamatan warga. Sebab pada April 2025 lalu, di sekitar kawasan ini sempat terjadi kecelakaan maut yang melibatkan kereta KRL dengan taksi online di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur.

"Teman-teman tahu, pada April 2025 telah terjadi kecelakaan maut kereta KRL yang bertabrakan dengan taksi online. Kejadiannya tidak jauh dari sini, ke arah Stasiun Bekasi Timur," ujar AHY di dekat perlintasan sebidang Bulak Kapal, Jumat (30/10/2026).

Ia menambahkan tingginya risiko kecelakaan dan potensi kemacetan terjadi di titik ini karena padatnya frekuensi KRL yang melintas setiap 5 menit sekali, sementara volume mobilitas kendaraan warga di kawasan tersebut sangat tinggi.

"Setiap 5 menit KRL lewat. Jadi ini isu yang sudah lama ketika trafik akan sangat terdampak oleh mobilitas kereta, yang itu juga digunakan secara masif oleh masyarakat kita untuk melakukan perjalanan setiap hari," ungkap AHY.

Oleh karena itu, pemerintah baik pusat maupun daerah Kota Bekasi menilai solusi untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi lagi sekaligus mengurai kemacetan di Bulak Kapal ini adalah dengan membangun sebuah flyover.

Untuk merealisasikan proyek infrastruktur ini, skema pembagian anggaran telah disiapkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Dalam hal ini pembiayaan terkait dengan pembebasan lahan jadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bekasi dengan alokasi anggaran sekitar Rp 126 miliar.

Dari total target pembebasan lahan sekitar 76 bidang, sebanyak 40 bidang sudah dalam kondisi clear and clean. Sedangkan 36 bidang sisanya masih berada dalam proses pembayaran yang ditargetkan tuntas pada November mendatang.

"Nanti kita kawal bareng-bareng Pak Walikota, Pak Deputi, nanti kita pastikan kalau ada sejumlah aset tanah milik pemerintah yang juga bisa kita segera koordinasikan," ujarnya.

Sementara itu, untuk pembangunan fisik flyover dikalkulasikan menelan biaya sekitar Rp 188 miliar dengan bentang panjang mencapai kurang lebih 500 meter. Proses konstruksi fisik flyover ini direncanakan memakan waktu pelaksanaan sekitar 16 bulan dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada triwulan pertama tahun 2028.

"Biaya yang sudah dialokasikan untuk pembebasan lahan ini tanggung jawab dari Walikota dan jajaran Pemerintah Kota Bekasi itu kurang lebih Rp 126 miliar. Sedangkan untuk pembangunan flyover-nya sendiri dikalkulasi sekitar Rp 188 miliar," jelasnya lagi.

Dari sisi teknis, ia mengatakan desain flyover Bulak Kapal dirancang secara khusus untuk memenuhi standar spesifikasi keselamatan yang ditetapkan oleh Kereta Api Indonesia (KAI).

Dalam hal ini flyover akan memiliki ketinggian ruang aman (clearance) bagi jalur KAI ditetapkan sekitar 7,5 meter untuk mengakomodasi jalur kelistrikan serta perlengkapan kereta, yang kemudian ditambah dengan tinggi struktur flyover itu sendiri.

"Panjangnya nanti kurang lebih 500 meter, ada overpass 80 sekian meter dengan 70 sekian meter yang jelas harapannya desainnya adalah benar-benar memenuhi spek keselamatan yang juga ditetapkan oleh KAI," papar AHY.

Dengan hadirnya infrastruktur ini, pemerintah berharap mobilitas harian masyarakat Kota Bekasi dapat berjalan lebih lancar, aman, serta mampu menekan risiko kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang.

"Kesimpulannya adalah ini harus segera kita bangun karena memang sangat dibutuhkan oleh warga untuk keselamatan, untuk produktivitas ekonomi, dan untuk kenyamanan kita semuanya. Mohon doanya mudah-mudahan bisa segera kita hadirkan untuk masyarakat Bekasi," pungkasnya.