NADIKABAR.COM — Ketika badan tiba-tiba terasa tidak enak, muncul ruam di kulit, kepala pusing, atau perut terasa nyeri, sebagian orang mungkin langsung membuka ponsel untuk mencari tahu penyebabnya. Dulu, pencarian seperti ini lebih banyak dilakukan melalui mesin pencari. Kini, ada pilihan lain yang semakin populer, yakni bertanya langsung kepada artificial intelligence (AI).
Cukup mengetik keluhan, kemudian AI akan memberikan penjelasan dalam hitungan detik. Bahkan, pengguna bisa melanjutkan percakapan dengan memberikan informasi tambahan mengenai gejala yang dirasakan.
Praktis memang. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah informasi kesehatan dari AI bisa dipercaya?
AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, hingga Grok dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan kesehatan, mulai dari menjelaskan istilah medis yang rumit, merangkum informasi, membantu memahami pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada dokter, hingga memberikan informasi umum mengenai suatu penyakit.
Kemampuan tersebut membuat AI berpotensi menjadi salah satu alat untuk membantu masyarakat memahami informasi kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengakui bahwa model AI generatif memiliki potensi untuk digunakan dalam bidang kesehatan, termasuk membantu pasien memahami informasi, mendukung tenaga kesehatan, pendidikan medis, hingga penelitian.
Namun, WHO menekankan bahwa penggunaan AI di bidang kesehatan harus dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, transparansi, pengawasan dan bukti ilmiah.
Artinya, AI bisa menjadi alat bantu untuk memahami informasi, tetapi bukan berarti setiap jawaban yang diberikan otomatis merupakan fakta medis yang sudah terverifikasi.
Salah satu hal yang membuat informasi kesehatan dari AI perlu diperiksa kembali adalah cara chatbot menyampaikan jawaban.
AI dapat memberikan respons yang tersusun rapi, menggunakan istilah medis, bahkan menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang terdengar sangat percaya diri.
Masalahnya, jawaban yang terdengar meyakinkan tidak selalu berarti jawabannya benar.
WHO mengingatkan bahwa model bahasa besar atau large language models dapat menghasilkan informasi yang salah, tidak lengkap atau bias. Bahkan, informasi tersebut bisa terlihat masuk akal bagi pengguna yang tidak memiliki latar belakang medis.
Risikonya menjadi lebih besar ketika seseorang menggunakan jawaban AI untuk mengambil keputusan mengenai diagnosis atau pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Penelitian mengenai kemampuan AI menjawab pertanyaan kesehatan menunjukkan hasil yang beragam.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di JAMA Network Open menganalisis 137 penelitian mengenai chatbot berbasis AI yang memberikan informasi atau saran kesehatan.