Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas penelitian yang mengevaluasi chatbot tersebut sangat beragam. Salah satu persoalannya, sebagian besar penelitian menggunakan metode penilaian yang berbeda-beda dan kurang dari sepertiga penelitian membahas aspek etika, regulasi dan keselamatan pasien dalam penerapan AI untuk layanan kesehatan.
Ada pula penelitian yang menunjukkan hasil cukup baik dalam konteks tertentu.
Salah satu studi yang menguji ChatGPT-4 menggunakan 100 pertanyaan kesehatan dari masyarakat menemukan bahwa sekitar 90 persen jawaban memperoleh nilai di atas rata-rata untuk akurasi ilmiah, sedangkan sekitar 84 persen memperoleh nilai tersebut untuk kelengkapan informasi.
Namun, peneliti tetap menekankan bahwa konsumen kesehatan perlu memeriksa jawaban AI melalui tenaga kesehatan atau sumber informasi terpercaya, terutama untuk mengetahui apakah informasi tersebut memang sesuai dengan kondisi individu.
Jadi, tingkat akurasi AI tidak bisa dipukul rata untuk semua pertanyaan kesehatan.
Jawaban untuk pertanyaan umum bisa saja cukup membantu. Namun, pertanyaan mengenai diagnosis, obat, dosis, interaksi obat, kondisi darurat atau penyakit tertentu membutuhkan tingkat kehati-hatian yang jauh lebih tinggi.
AI juga bisa memberikan informasi yang keliru
Risiko tersebut bukan sekadar teori.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 menguji lima chatbot populer dengan berbagai pertanyaan mengenai kanker, vaksin, sel punca, nutrisi dan performa olahraga.
Dalam penelitian tersebut, hampir setengah dari respons yang dianalisis dikategorikan memiliki masalah. Sebanyak 30 persen dinilai agak bermasalah dan 19,6 persen dinilai sangat bermasalah.
Peneliti juga menemukan masalah pada referensi yang diberikan chatbot. Kelengkapan referensi memiliki nilai median hanya 40 persen, sementara beberapa chatbot juga menghasilkan halusinasi atau sitasi yang dibuat-buat.
Temuan tersebut menunjukkan satu hal penting: mencantumkan sumber atau jurnal dalam jawaban AI belum tentu berarti sumber tersebut benar-benar mendukung pernyataan yang diberikan.
Karena itu, pengguna tetap perlu membuka dan memeriksa sumber aslinya.
Lalu, bagaimana cara menggunakan AI untuk mencari informasi kesehatan?
Bukan berarti AI harus dihindari ketika membicarakan kesehatan. Justru, teknologi ini bisa cukup berguna jika ditempatkan pada posisi yang tepat.