NADIKABAR.COM — Untuk pertama kalinya, akal imitasi digunakan secara masif dalam pemilu Israel. Buntutnya, deepfakes dan bot kampanye membanjiri lini massa. Pemantau asing mewanti-wanti, disinformasi bisa pengaruhi hasil akhir.
Dalam sebuah video berdurasi 19 detik yang diunggah ke platform X, Gadi Eisenkot, calon perdana menteri Israel, tampak berdiri dengan tangan terentang dan senyum lebar mengembang. Dengan efek gerak lambat, ia berlari melintasi padang rumput menuju sosok yang menyerupai putranya, mengenakan kaus bertuliskan "Israeli Unity".
Namun alih-alih memeluk sang anak, Eisenkot justru melewatinya dan merangkul Mansour Abbas, politikus Arab terkemuka yang memimpin Partai Ra'am dan ikut bertarung dalam pemilu.
Video tersebut diunggah melalui akun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Sejumlah survei menunjukkan Netanyahu dan Eisenkot, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF), bersaing ketat dalam perebutan kursi pemerintahan. Video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) itu tampaknya dirancang untuk memainkan sentimen anti-Arab, salah satu tema utama kampanye Netanyahu.
Klip tersebut ditonton lebih dari satu juta kali dan memicu gelombang kemarahan publik. Putra Eisenkot sendiri gugur pada 2023 dalam perang Israel-Hamas.
Menurut Ze Be AI, proyek riset milik Open University of Israel yang memantau penggunaan AI dalam kampanye pemilu legislatif 2026, video itu hanyalah satu dari lebih dari 1.800 unggahan berbasis AI yang diproduksi Partai Likud pimpinan Netanyahu hingga pertengahan Oktober. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat dari seluruh materi media sosial Likud yang dianalisis oleh tim peneliti.
Pada 27 Oktober, warga Israel akan menentukan arah politik negaranya melalui pemilu yang dapat mengakhiri kekuasaan Netanyahu atau justru memperkokoh posisinya untuk tahun-tahun mendatang. Para ilmuwan politik mulai menyebut kontestasi ini sebagai pemilu AI pertama di Israel.
Teknologi AI telah masuk ke hampir setiap aspek kampanye: mulai dari pembuatan video sensasional yang dirancang memantik kontroversi, panggilan telepon otomatis kepada pemilih, hingga penyebaran jaringan bot di media sosial.
"Dalam skenario tertentu, tepat menjelang hari pemungutan suara, AI bisa digunakan untuk menciptakan kontroversi yang berpotensi menggeser hasil pemilu," kata Anat Ben-David, peneliti media yang memimpin proyek Ze Be AI.
Sejak akhir Juli, Ben-David dan timnya melacak seluruh konten media sosial yang dipublikasikan para politisi Israel. Hingga pertengahan Oktober, mereka telah mengumpulkan lebih dari 44 ribu unggahan dari Facebook, Instagram, X, dan TikTok. Hasilnya, lebih dari 14 persen materi kampanye menggunakan AI dalam berbagai bentuk.
Pendekatan yang paling umum adalah model hibrida, yakni AI hanya digunakan pada sebagian elemen iklan, seperti gambar, musik, subtitle, logo, atau bahkan deepfake yang sepenuhnya sintetis.
Partai-partai kecil memang memiliki proporsi penggunaan AI yang tinggi dalam kontennya. Namun dari sisi jumlah, Partai Likud jauh melampaui pesaing lainnya. Di belakangnya menyusul Partai Demokrat yang berhaluan kiri, lalu Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot, meski dengan selisih yang cukup jauh.
Pada Juli lalu, Komite Pemilihan Umum Israel mewajibkan semua materi kampanye yang dibuat atau dimanipulasi AI untuk diberi label. Namun di luar aturan itu, hampir tidak ada pembatasan khusus.