"Tidak ada AI Act, tidak ada Digital Services Act, dan undang-undang perlindungan privasi kami sudah sangat ketinggalan zaman," ujar Ben-David. "Akibatnya, muncul berbagai penggunaan AI yang mungkin mustahil terjadi di Eropa."

Beberapa tokoh politik paling menonjol di Israel juga memanfaatkan AI dalam kampanye mereka.

Ketua Partai Demokrat, Yair Golan, mencoba menunggangi tren internet. Dalam sebuah video yang diberi label sebagai konten AI, ia duduk di bawah kipas angin langit-langit. Setiap kali baling-baling berputar, pakaiannya berubah: dari seragam militer menjadi kaus bertuliskan slogan populer "Bring Them Home Now" yang merujuk pada sandera Israel di Gaza, lalu berganti lagi menjadi setelan jas resmi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengunggah video AI fotorealistis pada September yang memperlihatkan Jaksa Agung Israel dan para hakim Mahkamah Agung ditangkap dalam sebuah demonstrasi anti-pemerintah. Padahal Jaksa Agung Gali Baharav-Miara selama ini memang kerap berselisih dengan koalisi pemerintah.

Kontroversi yang lebih besar muncul setelah Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir membagikan video AI yang menggambarkan warga Palestina didorong di atas ban berjalan menuju bangunan yang menyerupai kamp konsentrasi. Unggahan tersebut menuai kecaman luas. Kementerian Luar Negeri Jerman bahkan menyebutnya sebagai sesuatu yang "sama sekali tidak dapat diterima" dan "menjijikkan".

Meski demikian, otoritas pemilu menunjukkan kesediaan untuk bertindak. Pada Juli, ketua komite pemilu memerintahkan Smotrich mencabut video AI yang tidak diberi label dan dianggap menyesatkan publik.

Penggunaan AI tidak berhenti pada iklan dan deepfake. Teknologi ini juga dipakai untuk menjangkau pemilih secara langsung.

Sebagian warga Israel menerima panggilan otomatis berbasis AI yang jauh lebih canggih dibandingkan robocall generasi lama. Peneliti disinformasi dari Israel Internet Association, Nitsan Yasur, membagikan rekaman panggilan telepon berdurasi empat menit kepada DW.

Dalam percakapan itu, sebuah suara memperkenalkan diri sebagai petugas survei bernama Danielle dari lembaga jajak pendapat Israel. Ketika Yasur menanyakan apakah yang berbicara adalah manusia, suara tersebut menjawab: "Tidak ada agen manusia di saluran ini," sebelum melanjutkan pertanyaan survei.

Bot itu mampu menjawab berbagai pertanyaan Yasur, tetapi terus mengarahkan percakapan kembali kepada preferensi politiknya. Menariknya, setelah lima kali ditanya siapa pihak yang memesan survei tersebut, sistem tidak pernah memberikan jawaban.

Bagi Tehilla Shwartz Altshuler, peneliti senior Israel Democracy Institute, kemajuan ini menunjukkan bagaimana AI telah mengubah praktik kampanye.

"Anda tidak lagi membutuhkan orang sungguhan untuk melakukan panggilan telepon satu per satu, yang jelas terbatas oleh waktu dan kapasitas," katanya.

Sebagian warga Israel kini juga mulai mempertimbangkan AI sebagai sumber informasi untuk menentukan pilihan politik.