NADIKABAR.COM — Teknologi kecerdasan buatan (AI) mengungkap celah keamanan terbaru pada perangkat lunak yang berpotensi membahayakan pengguna internet di dunia. Lantas, bagaimana kesiapan sistem siber di Indonesia?
Prabaswari selaku juru bicara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkap kesiapan Indonesia dalam menghadapi kerentanan perangkat lunak tersebut.
Menurut penjelasannya, BSSN telah menerbitkan security advisory melalui situs BSSN dan IDSIRTII, menggelar Apel Kesiapsiagaan bersama Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) pada 22-23 Oktober 2026 lalu, serta membuka layanan asistensi teknis dalam menghadapi kerentanan pada bahasa pemrograman PHP.
Selain itu, kata Prabaswari, BSSN melakukan verifikasi dan memetakan aset bersama penyelenggara sistem elektronik (PSE) dalam mengidentifikasi sistem yang berpotensi terdampak.
"Kami berupaya proaktif untuk tidak menunggu insiden terjadi," kata Prabaswari kepada NadiKabar.com pada Selasa (3/11).
Menurutnya, BSSN juga menerapkan pola kerja yang sama untuk kerentanan lain seperti Node.js. Pihaknya akan memantau, menilai dampaknya bagi aset di Indonesia serta mengomunikasikan langkah perbaikan kepada pengelola sistem.
Mengutip situs resmi untuk Node.js, kode ini merupakan "mesin" yang membuat bahasa pemrograman JavaScript dapat berjalan di komputer atau server, bukan hanya di dalam peramban web seperti Google Chrome.
Meski demikian, Prabaswari menegaskan tanggung jawab untuk memperbarui perangkat lunak atau patching berada pada masing-masing pengelola sistem. Langkah ini beriringan dengan pendampingan BSSN melalui notifikasi, panduan serta asistensi teknis.
"Karena itu, kolaborasi BSSN dan PSE menjadi kunci. Di tengah kecepatan temuan, termasuk yang dibantu AI, kemampuan mendeteksi dan menambal harus bergerak lebih cepat lagi," ujar Prabaswari.
Sebagai informasi, AI telah mengungkap serangkaian kerentanan baru pada perangkat lunak dalam pekan yang sama dengan insiden PHP.