Menurut laporan Reuters, sejumlah kerentanan turut diungkap pada sebuah perangkat lunak untuk layanan streaming sekaligus alternatif PHP dan Plex, yaitu Node.js.
Selain itu, terjadi sejumlah kebocoran data yang berkaitan dengan platform pengembangan perangkat lunak, yaitu LiteLLM.
Temuan lainnya mengungkap bahwa otoritas sertifikat digital India bernama eMudhra menggunakan kunci kriptografi yang lemah. Kondisi ini berpotensi membahayakan pengguna internet di berbagai belahan dunia.
"Jika dalam satu pekan saja kita melihat empat atau lima kejadian seperti ini, saya memperkirakan akan ada lebih banyak kejadian serupa," kata Patrick Garrity, seorang peneliti dari VulnCheck, dikutip dari CNA, Jumat (23/10).
Prabaswari menilai kasus LiteLLM menunjukkan bahwa pembaruan dari sumber terpercaya dapat disusupi.
Sementara itu, menurutnya, kasus eMudhra menunjukkan kelemahan pada penyedia sertifikat dapat berdampak lintas negara. Pasalnya, sertifikat palsu berpotensi digunakan untuk menyamar sebagai situs legal.
"Kabar baiknya, browser utama sudah mencabut kepercayaan terhadap sertifikat bermasalah tersebut. Masyarakat cukup memastikan browser dan sistem operasinya selalu diperbarui," kata Prabaswari.
Prabaswari turut mengungkap potensi dampak dari insiden tersebut terhadap ekosistem digital di Indonesia, yaitu apakah ekosistem menggunakan teknologi yang terdampak dan seberapa cepat celahnya ditutup.
"Dampaknya bergantung pada dua hal, yaitu apakah ekosistem memakai teknologi yang terdampak, dan seberapa cepat celahnya ditutup," ungkap Prabaswari.
Pada sistem pemerintah, ia menyebut terdapat sejumlah aspek yang perlu diwaspadai seperti penggunaan perangkat lunak yang belum diperbarui, ketergantungan pada komponen pihak ketiga seperti pustaka sumber terbuka (open-source libraries) serta kepercayaan terhadap infrastruktur sertifikat digital.